Jakarta, Aktual.com – Sugianto Sabran, petahana Calon Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) dikenal memiliki karakter yang mudah marah. Bahkan Petahana tersebut juga diduga biasa melakukan penganiayaan terhadap oranglain.

Dalam kehidupan rumah tangga pun, Sugianto Sabran tercatat pernah melakukan penganiayaan atau KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), yang berujung pada perceraiannya dengan artis Ussy Sulistiawaty beberapa waktu lalu.

Kasus penganiayaan yang dilakukan oleh Sugianto Sabran yang santer terdengar di masyarakat adalah penganiayaannya terhadap aktivis. Pertama, yaitu penganiayaan terhadap aktivis lingkungan EIA (environmental Investigation Agency), Faith Doherty.

Kedua, penganiayaan terhadap aktivis Telapak, Ambrosius Ruwindrijanto (Ruwi). Sedangkan yang ketiga, adalah penganiayaan terhadap Abi Kusno, pekerja media lokal Lintas Khatulistiwa.

Dan satu lagi penganiayaan yang cukup santer dibicarakan di masyarakat yaitu, pelemparan botol oleh Sugianto Sabran kepada wasit sepakbola saat laga pekan ke-25 Liga 1 2019 antara Kalteng Putra vs Persib Bandung.

Berdasarkan pada buku Kesehatan Mental, karya Yustinus Semiun, OFM, bahwa kesulitan-kesulitan emosional yang singkat meskipun merugikan individu, merupakan definisi sederhana dari gangguan mental.

Dan berdasarkan definisi tersebut menjadikan masyarakat Kalteng bertanya-tanya, apakah Sugianto Sabran mampu mengemban amanahnya sebagai pemimpin sedang ia bermasalah dengan dirinya sendiri yaitu gangguan emosional yang cenderung mengarah kepada gangguan kesehatan mental.

Karena seperti yang tertera dalam buku Kesehatan Mental tersebut, Yustinus Semiun, OFM, menyatakan bahwa, seseorang yang mengalami kesehatan mental yang buruk berbeda dalam hal tingkat kesehatan jika dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki kesehatan mental yang baik.

Pada orang-orang yang mengalami kesehatan mental yang buruk, perasaan-perasaan bersalah kadang-kadang menguasainya, kecemasan-kecemasan tidak produktif dan sangat mengancamnya. Ia biasanya tidak mampu menangani krisis-krisis dengan baik dan ketidakmampuan ini mengurangi kepercayaan dan harga dirinya.

Terkadang ancaman-ancaman dari dalam dan dari luar mungkin begitu kuat sehingga ia mengembangkan gangguan tingkah laku. Tentu saja gangguan ini bisa berkembang dari gangguan yang ringan sampai pada gangguan yang berat.

(Andy Abdul Hamid)