KRI Teluk Banten-516 yang mengangkut ratusan warga eks-Gafatar berlayar di Sungai Kapuas, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (25/1). Sebanyak 715 warga eks-Gafatar dibawa menuju Jakarta dengan menggunakan KRI Teluk Banten-516, untuk kemudian dipulangkan ke daerah masing-masing di Sumatra, Jawa Barat dan Banten. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/kye/16

Pontianak, Aktual.com – Anggota Komisi VI DPR RI, Bambang Haryo Soekartono menyoroti pendangkalan yang terjadi di alur muara Sungai Kapuas menuju Pelabuhan Dwikora Pontianak yang kini kedalamannya hanya mencapai 4 meter.

“Oleh karena itu pengerukan itu harus dilakukan apalagi berdasarkan ketentuan yang ada bisa diminta pengerukan bagi pelabuhan yang membutuhkan,” ujarnya saat melakukan kunjungan kerja di Kalbar, Kamis (1/3).

Ia menjelaskan dengan muara Sungai Kapuas yang terus mengalami pendangkalan maka hal itu berisiko membuat kapal kandas. Selain itu Pelabuhan Pontianak sebagai pelabuhan sungai sudah tidak efisien lantaran hanya mampu menampung kapal-kapal berukuran sedang, sehingga menimbulkan inefisiensi.

“Kalau saja kapal-kapal besar bisa berlabuh di sini tentu akan menurunkan biaya logistik yang signifikan dan membuat daya saing kita semakin tinggi. Sekarang kedalaman alur muara hanya empat meter. Selain rawan kandas, kapal-kapal yang lewat pasti bodi bawahnya akan bergesekan dengan dasar sungai dan menimbulkan kerusakan,” papar dia.

Terkait pelabuhan internasional yang akan dibangun di Kijing, Kabupaten Mempawah akan akan segera dibangun ia berharap hal tersebut segera terwujud.

“Diperkirakan pembangunan memakan waktu 2-3 tahun dan anggaran besar. Tetapi kita butuh ini, karena ‘load factor’ di Pelabuhan Pontianak sudah 80 persen. Sebentar lagi akan penuh sehingga perlu pelabuhan baru,” jelasnya.

Menurutnya dengan hadirnya Pelabuhan Kijing yang dirancang sebagai pelabuhan internasional yang terintegrasi dengan kawasan industri strategis maka akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Kalbar melonjak.

“Untuk pembangunan itu tentu perlu didukung semua pihak. Pontianak ini sangat strategis di atasnya jalur perdagangan internasional di mana 90 persen kapal dunia. Tetapi pelabuhan Singapura dan Malaysia mengawasinya. Pelabuhan Kijing bisa mengambil pasar besar di sana nantinya,” jelas dia.

Pemerintah katanya perlu mempersiapkan segalanya agar hal tersebut terwujud. Salah satunya adalah jalan dari Pontianak ke Kijing yang walaupun sudah mulus tetapi lebarnya hanya sekitar 7 meter. Hal tersebut membuat rawan pengguna jalan.

“Apalagi bila ada dua truk kontainer saling berhadapan sehingga jalan harus diperhatikan. Belum lagi persoalan ketersediaan energi tentu perlu kelistrikan yang cukup. Belum lagi pipanisasi gas untuk bahan bakar. Ini harus ada agar industrinya bisa hidup,” kata dia.

ANT

(Antara)