????????????????????????????????????

Jakarta, Aktual.com — Tingkat kebahagiaan karyawan Indonesia tercatat sebagai yang tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Berdasarkan survei Jobstreet by SEEK Workplace Happiness Index Indonesia 2025–2026, Indonesia meraih skor kebahagiaan kerja sebesar 82 persen, melampaui sejumlah negara dengan pasar kerja yang lebih kompetitif seperti Hong Kong, Singapura, dan Australia.

Survei tersebut dilakukan terhadap 1.000 responden usia produktif pada periode Oktober hingga November 2025. Hasil ini menunjukkan bahwa persepsi kebahagiaan kerja di Indonesia tidak semata ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau tingkat persaingan pasar tenaga kerja.

Acting Managing Director Jobstreet by SEEK Indonesia, Wisnu Dharmawan, menilai kebahagiaan kerja tidak hanya bergantung pada besaran gaji. Menurutnya, gaji kompetitif memang penting untuk menarik kandidat, namun tidak cukup untuk menciptakan kepuasan jangka panjang.
“Makna pekerjaan dan keseimbangan hidup justru menjadi faktor kunci kebahagiaan karyawan,” ujar Wisnu dalam Konferensi Pers Laporan Eksklusif Workplace Happiness Index Indonesia 2025–2026 di Gedung RDTX Place, Jakarta Selatan, Selasa (3/2/2026).

Ia menjelaskan, faktor work-life balance secara konsisten muncul sebagai pendorong utama kebahagiaan lintas generasi pekerja. Namun, konsep tersebut lebih dimaknai sebagai fleksibilitas waktu dan lokasi kerja, bukan sekadar pengurangan jam kerja.

Laporan ini juga mencatat adanya perbedaan preferensi kebahagiaan kerja antar generasi. Gen X lebih menekankan kecocokan peran dan tanggung jawab, milenial mengutamakan stabilitas kerja, sementara Gen Z menaruh perhatian besar pada fleksibilitas dan opsi kerja jarak jauh.

Meski indeks kebahagiaan tergolong tinggi, survei ini menyoroti tantangan serius berupa kelelahan mental serta kekhawatiran terhadap dampak kecerdasan buatan. Sebagian responden menilai perkembangan AI berpotensi mengancam keamanan pekerjaan di sektor tertentu.

Wisnu menegaskan peran pimpinan perusahaan menjadi krusial dalam menjaga keberlanjutan kebahagiaan kerja. “Produktivitas tidak bisa dibangun dengan tekanan berlebihan. Karyawan yang bahagia justru lebih termotivasi berkontribusi,” katanya.

Melalui laporan ini, Jobstreet by SEEK mendorong perusahaan menyusun kebijakan kerja yang adaptif, sejalan dengan kebutuhan demografi tenaga kerja dan dinamika ekonomi nasional.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi