Jakarta, aktual.com – Dukungan terhadap pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau Madura sangat tinggi di kalangan petani tembakau dan civitas akademika Madura.
Hal tersebut terungkap dalam paparan hasil survei Komunitas Muda Madura (KAMURA) pada Seminar Nasional bertajuk “KEK Tembakau: Instrumen Pemerataan dan Transformasi Ekonomi Madura” yang digelar oleh LP3ES di Hotel Diradja, Kamis (29/1/2026).
Data tersebut disampaikan oleh Mohamad Nabil mewakili Tim Perumus Naskah Akademik KEK Tembakau Madura. Survei ini menjadi bagian dari proses penyusunan naskah akademik sebagai landasan pengajuan KEK Tembakau Madura kepada pemerintah pusat.
Dalam pemaparannya, Nabil menegaskan bahwa perumusan KEK Tembakau Madura berangkat dari kerangka berpikir yang menempatkan petani sebagai subjek utama kebijakan.
“Kerangka berpikir kami adalah memuliakan petani. Tembakau menjadi napas ekonomi rakyat.”
“Urgensi pembentukan KEK Tembakau Madura semakin tak terelakkan mengingat komoditas ini tengah mengalami fenomena backwash effect, di mana nilai tambah ekonomi tersedot ke luar wilayah tanpa memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan daerah asalnya,” imbuhnya.
Kondisi ini memperparah realitas ketimpangan wilayah yang ekstrem, di mana kontribusi ekonomi Madura tertinggal jauh di angka kisaran 4% dibandingkan dengan wilayah daratan utama Jawa Timur.
“Oleh karena itu, KEK Tembakau diperlukan sebagai instrumen transformasi yang melampaui kebijakan biasa (beyond business as usual) untuk menghentikan kebocoran ekonomi tersebut dan mewujudkan pemerataan yang nyata,” demikian menurut Nabil.
Dukungan Mutlak dari Akar Rumput
Urgensi kebijakan ini selaras dengan aspirasi arus bawah, di mana gagasan KEK Tembakau mendapatkan legitimasi sosial yang kuat dari masyarakat.
Hal ini terkonfirmasi melalui temuan survei terbaru yang mencatat adanya dukungan mutlak, baik dari kalangan petani di ladang maupun mahasiswa di mimbar akademik.
Data survei terhadap 502 petani tembakau di Sumenep, Pamekasan, dan Sampang menunjukkan angka dukungan yang signifikan.
Sebanyak 71,7% responden menyatakan “sangat setuju” dan 24,5% “setuju” terhadap pembentukan KEK Tembakau. Hanya segelintir kecil yang menyatakan netral (2,2%), tidak setuju (1,0%), atau sangat tidak setuju (0,6%).
Dukungan serupa datang dari sektor pendidikan. Dari 560 responden mahasiswa dan sivitas akademika di empat kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep), 48,8% menyatakan “sangat setuju” dan 33,1% “setuju”.
Harapan dan Tantangan
Survei juga memotret harapan utama masyarakat: stabilitas harga. Sebanyak 29,7% petani dan 25,7% mahasiswa berharap KEK Tembakau mampu menjamin harga jual yang stabil dan menguntungkan petani.
Meski demikian, Nabil tidak menampik adanya kekhawatiran publik yang harus dijawab. Di kalangan petani, ketakutan terbesar adalah potensi alih fungsi lahan (48,8%). Sementara itu, 48,5% mahasiswa khawatir KEK hanya akan menguntungkan korporasi besar tanpa dampak menetes ke bawah (trickle-down effect).
Menanggapi hal itu, Nabil menjelaskan bahwa instrumen kebijakan yang ada saat ini, seperti Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) maupun Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT), belum cukup kuat untuk memutus rantai kemiskinan struktural.
“Petani Madura tidak menikmati DBH secara langsung, sehingga mereka tetap miskin. Tata niaga yang panjang—dari petani, tengkulak basah, tengkulak kering, hingga korporasi—membuat posisi tawar petani lemah. Di sinilah KEK Tembakau hadir sebagai jalan keluar atas kebekuan ekonomi tersebut,” tegasnya.
Nabil menekankan bahwa keberhasilan KEK Tembakau mensyaratkan kolaborasi terintegrasi antar-daerah di Madura. “Setiap kabupaten harus memiliki peran spesifik dalam rantai pasok ini agar kita tidak mengulangi kegagalan kebijakan parsial sebelumnya,” pungkasnya.
Seminar nasional ini terselenggara atas kerja sama Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) dan KAMURA.
Kolaborasi ini bertujuan mendorong kebijakan pembangunan yang berbasis pada karakteristik ekologis dan sosiologis masyarakat setempat, demi Madura yang lebih sejahtera.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain
















![Kasus WNI Anak di Yordania, Kemlu Intensifkan Upaya Pemulangan Polisi Yordania di dekat perbatasan dengan Israel pada 21 Mei 2021 di al-Karama, Yordania. [Jordan Pix/Getty Images]](https://aktual.com/wp-content/uploads/2025/12/Anak-WNI-Di-Bawah-Umur-100x75.png)
