Direktur Eksekutif Media Survei Indonesia (MSI) Asep Rahmatullah (kiri), bersama Ketua YKMI, dan Sekjen MUI Amirsyah Tambunan (kedua dari kanan) dalam acara rilis 'Survei Opini Publik Pemudik Muslim Tentang Vaksin Halal' di Hotel Sofyan, Tebet, Jakarta, Jumat (13/5).

Jakarta, Aktual.com – Direktur Eksekutif Media Survei Indonesia (MSI) Asep Rahmatullah mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat mendukung adanya putusan MA yang mewajibkan pemerintah menyediakan vaksin halal Covid-19.

“Mayoritas responden 87,8% mendukung putusan MA, hanya 1,1% yang menolak, ” ujar Asep dalam rilis surveinya di Hotel Sofyan, Tebet, Jakarta, Jumat (13/2).

Menurut Asep, hal ini menunjukan bahwa pemerintah wajib menjamin ketersediaan vaksin bersertifikasi halal yang telah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hal tersebut dikuatkan besarnya tingkat kekecewaan masyarakat jika putusan MA tersebut tidak dilaksanakan. “78% mengaku kecewa jika putusan tersebut tidak dijalankan oleh pemerintah. Saya kira ini PR besar bagi pemerintah terutama dalam hal ini Kementerian Kesehatan”.

Asep juga menegaskan bahwa pemerintah terancam kehilangan kepercayaan publik apabila pemerintah tidak segera menjalankan putusan MA tersebut.

“Dari 1.220 pemudik muslim yang kami wawancarai, 89,7% mengungkapkan hal tersebut (kehilangan kepercayaan apabila tidak menjalankan putusan MA), ini persoalan serius,” ungkapnya.

Untuk itu Asep berharap pemerintah mulai serius memperhatikan suara umat muslim Indonesia terkait ketersediaan vaksin halal Covid-19. “Saya kira ini wajar dan menjadi kebutuhan dasar, selain itu pemerintah mewajibkan vaksinansi”.

Untuk diketahui Media Survei Indonesia (MSI) telah melakukan survei dengan tema ‘Survei Opini Publik Pemudik Muslim Tentang Vaksin Halal’.

Survei dilakukan pada tanggal 1-7 Mei 2022. Jumlah responden 1.220 yang tersebar di titik-titik pemberangkatan atau tempat peristirahatan pemudik di Jabodetabek.

Responden adalah pemudik yang beragama Islam berusia 17 tahun ke atas dan sudah di vaksin Covid-19.

(Dede Eka Nurdiansyah)