Jakarta, Aktual.co — Survey terbaru dari para agen real estate lokal mengungkapkan bahwa prospek ekonomi di Indonesia dianggap sebagai kendala utama di dalam pasar properti Indonesia, mengalahkan berbagai faktor lainnya seperti perubahan politik dan fluktuasi harga.

“Hampir 65 persen dari agen-agen memiliki pandangan positif terkait masa depan pasar properti sementara 35 persen lainnya menggambarkan proyeksi pasar mereka selama 12 bulan ke depan biasa-biasa saja,” ujar Co-Founder Lamudi Global, Kian Moini dalam keterangan yang diterima Rabu (10/12).

Survey ini juga mengungkapkan bahwa transaksi jual-beli real estate semakin beralih ke konsep e-commerce atau jual-beli online. Sekitar 96 persen agen menyatakan kalau internet kini menjadi medium paling banyak digunakan untuk jual, beli, dan sewa real estate. Tiga per empat agen mengatakan kalau mereka mengiklankan properti mereka secara online dibandingkan dengan hanya 14 persen yang menggunakan koran dan tiga persen menggunakan majalah untuk beriklan.

“Kesimpulan yang kami dapatkan dari riset kami ialah masa depan pasar properti di Indonesia sangat lah cerah. Sekitar tiga perempat agen menyatakan mereka memperkirakan sektor properti di Indonesia akan naik hingga delapan persen atau lebih pada tahun 2014. Namun sudah tidak mengherankan kalau pasar real estate Indonesia telah menjelma menjadi salah satu yang paling menjanjikan di kawasan Asia Pasifik,” tambahnya.

Lanjutnya, survey kedua yang melibatkan para konsumen menyoroti perilaku berburu properti diantara para pembeli dan penyewa. Survey ini juga mengungkapkan kalau memiliki properti adalah prioritas bagi banyak orang Indonesia, diwakili dengan 95% penyewa menyatakan kalau mereka menabung untuk membeli rumah.

“Hasil survey mengungkap bawah sangat sedikit orang Indonesia yang tinggal sendiri, dengan mayoritas responden tinggal dengan orang lain (56,1%) atau dengan orang tua mereka (29,8%),” jelasnya.

Presiden Direktur Summarecon, Johanes Mardjuki, membahas prospek pasar real estate, yang menjadi sektor dengan pemasukan menengah besar sebagai peluang bisnis terdepan untuk sektor properti.

“Di Jakarta, peluang pertumbuhan properti sangat kecil. Namun, di kawasan penyangga Jakarta, peluangnya sangat besar, seperti Bekasi dan Bogor. Selain itu, kami juga melihat potensi di ktoa-kota besar lainnya seperti Medan dan Balikpapan, dan tentunya kami terus mencari peluang pertumbuhan di luar Jawa,” ujar Mardjuki.

()

(Eka)