Jakarta, Aktual.com – Kasus penyerangan terhadap ulama Syekh Ali Jaber, pada Minggu (13/9), telah membuat banyak kalangan masyarakat bertanya mengenai motif pelaku. Namun, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Komisaris Jenderal Pol Boy Rafli Amar tidak langsung menyatakan insiden itu masuk dalam tindakan terorisme.

Boy mengatakan, BNPT ikut mendalami kasus penyerangan dengan menggunakan senjata tajam yang berakhir penusukan lengan kanan Syekh Ali Jaber oleh pria muda, bernama Alfin Andrian. Dia juga merespons klaim gangguan jiwa pelaku yang telah beredar sejak peristiwa terjadi, Minggu malam.

“Memang ada informasi yang menyatakan, terutama dari pihak lingkungan dan keluarga, bahwa yang bersangkutan dalam lima tahun terakhir mengalami semacam gangguan jiwa. Hal itu pernah dibuktikan dengan adanya pemeriksaan di rumah sakit tahun 2016, tentunya kita tidak percaya begitu saja,” kata Boy saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI di Jakarta, Selasa (15/9).

Dia juga menyatakan, BNPT telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum mendalami kasus penusukan Syekh Ali Jaber. Terutama, kata dia, demi membuktikan kondisi kejiwaan terkini si pelaku penyerangan.

“Untuk melakukan pendalaman lebih lanjut, terutama berkaitan dengan masalah apakah yang bersangkutan benar-benar gila, atau pura-pura gila. Ini sedang kita lakukan dengan pemeriksaan,” kata Boy.

BNPT sebagai lembaga negara menangani khusus kejahatan luar biasa terorisme, diakuinya juga menyelidiki indikasi afiliasi pelaku penyerangan terhadap kelompok teroris tertentu.

“Termasuk, jejak digital dari sosok penyerang. Itu sementara yang terus kami dalami,” ucap Boy.

Insiden penusukan terhadap Syekh Ali Jaber oleh Alfin Andrian (24) terjadi saat beliau mengisi kajian di Masjid Falahuddin, Yamin, Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung, Minggu (13/9) pukul 17.10 WIB.

Syekh Ali Jaber juga langsung mengkonfirmasi selang beberapa jam saat peristiwa terjadi dan dilarikan ke Puskesmas terdekat tempat kejadian perkara (TKP) demi mendapat pertolongan. Beliau mengatakan, terdapat 10 jahitan akibat penusukan.

“Acara baru awal, saya panggil anak 9 tahun untuk tes bacaannya, karena itu acara wisuda hapalan Alquran. Ketika selesai, kaluarga (anak 9 tahun, red) minta foto, Saat itu, ada seseorang pemuda lari ke atas panggung (si pelaku kemudian menusukkan pisau ke lengan kanan Syekh Ali, red),” kata Syekh Ali Jaber di Bandar Lampung, Lampung, Minggu (13/9) malam.

Menteri Koordinator Pilitik, Hukum, dan Keamanan RI Mahfud MD juga telah memberikan kecaman terhadap penyerangan itu, Minggu, pukul 21.30 WIB.

Mahfud mengatakan, “Aparat keamanan Lampung supaya segera mengumumkan identitas pelaku, dugaan motif tindakan, dan menjamin bahwa proses hukum akan dilaksanakan secara adil dan terbuka.”

Syekh Ali Jaber, lanjut Mahfud, adalah ulama yang banyak membantu Pemerintah dalam amar makruf nahi munkar dalam kerangka Islam rahmatan lil alamiin, Islam sebagai rahmat dan sumber kedamaian di dunia, Islam wasathiyyah.

“Selama ini beliau selalu berdakwah sekaligus membantu satgas Covid-19 dan BNPB untuk menyadarkan umat agar melakukan sholat di rumah pada awal-awal peristiwa Corona. Jadi, Syekh Ali Jaber adalah ulama yang aktif membantu pemerintah, yang bahkan pernah berceramah dan berbuka puasa bersama Presiden Joko Widodo, Presiden SBY, dan Pimpinan lembaga negara lainnya,” tegas Mahfud dalam poin dua pernyataannya.

Ketiga, kata Mahfud, pelaku penusukan adalah musuh kedamaian dan perusak kebersatuan yang memushi Ulama. “Sehingga, harus diadili secara fair dan terbuka, serta dibongkar jaringan jaringannya yang mungkin ada di belakangnya,” kata dia.

Keempat, kata Mahfud, Pemerintah menjamin kebebsan ulama untuk terus berdakwah amar makruf nahi munkar. “Dan Saya menginstruksikan, agar semua aparat menjamin keamanan kepada para ulama yang berdakwah dengan tetap mengikuti ptokol kesehatan di era Covid-19,” tegas Mahfud.(RRI)

(Warto'i)