Jakarta, Aktual.com – Dalam pengajian tafsir Al Quran yang disampaikan oleh Syeikh Dr.Yusri Rusydi Jabr Al Hasani:

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةٌ فَعَسَى اللّهُ أَن يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِّنْ عِندِهِ فَيُصْبِحُواْ عَلَى مَا أَسَرُّواْ فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ ﴿٥٢﴾

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka”[QS:Al Maidah/5 ayat 52]

Maksud dari kata مَّرَضٌ / maradh (penyakit) yang bersarang di dalam hati mereka yaitu penyakit hubbud-dunya war-riyasah (cinta dunia dan gila jabatan) yang dapat membuat seseorang tergiur untuk bahu- membahu berjuang bersama kaum kafir demi kelancaran cita-citanya dalam menggapai suatu jabatan.

Dikatakan Syekh Yusri bahwa penyakit tersebut berkembang di dalam hatinya sehingga ia (orang munafik) enggan untuk ber muwalat kepada kaum muslimin dan lebih memilih untuk meminta/memberi bantuan kepada orang-kafir dalam mengurusi suatu pemerintahan asalkan pada akhirnya ia dapat mencapai kenikmatan dunia, jabatan, pengaruh/wibawa, kekayaan dan kekuasaan.

Demikianlah yang terjadi pada peperangan salib di masa lampau, pasukan salib dapat menguasai wilayah Syam dengan mudah berkat orang-orang islam yang pada mulanya bersekutu dan saling membantu dengan kaum salibis demi mengejar persaingan kekuasaan sesama kaum muslimin, sampai pada akhirnya golongan islam yang bersekongkol tersebut menjadi orang yang pertama dibantai oleh pasukan salib itu sendiri.

Begitu pula dengan para pelaku pembunuhan terhadap Sayyidina Husain RA, dengan membunuhnya mereka dijanjikan akan mendapatkan jabatan dan kekuasaan sampai tega melakukan skenario pembunuhan yang dirancang oleh kaum Yahudi tersebut. Dan akhirnya para pembunuh Sayyidina Husain RA pun satu persatu mereka bunuh.

Sejak zaman Rasulullah SAW sampai sekarang sudah ribuan orang yang tercatat dalam sejarah sejumlah nama tokoh muslim yang bermuwalat (menyerahkan urusan kekuasaan/saling membantu) kepada orang-orang kafir demi mengejar jabatan dan kekuasaan lalu ajal mendahuluinya sebelum mereka mendapatkan apa yang di angan-angankannya. Karena Allah SWT tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka baik di dunia maupun di akhirat.

يُسَارِعُونَ فِيهِم

“Mereka (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani)..” [QS:Al Maidah/5 ayat 52]

Maknanya adalah يَتَوَلَّوْهُمْ وَيَتَمَلَّكُوْهُمْ وَحَقَّقُوا مَصَالِحَهُمْ وَمَاَرِبَهُمْ فِي بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ artinya : orang-orang munafik respek dalam membantu/meminta bantuan kepada Yahudi dan Nasrani, menjungjung kekuasaan mereka, merealisasikan cita-cita dan kemaslahatan bagi mereka (Yahudi dan Nasrani) di negara-negara berpenduduk mayoritas kaum muslimin.

يَقُولُونَ نَخْشَى أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةٌ

“Seraya (orang-orang munafik) berkata: “Kami takut akan mendapat bencana” [QS:Al Maidah/5 ayat 52]

“Bencana” yang dimaksud adalah bencana dunia berupa kerugian materi ataupun hilangnya jabatan apabila mereka tidak saling membantu bersama kaum kafir, dan hal ini merupakan ‘illat (faktor pendorong/motifasi) bagi kaum munafik untuk tetap bersekutu dengan Yahudi dan Nasrani.

Ungkapan tersebut pertama kali diutarakan oleh pemimpin kaum munafik yaitu Abdullah bin Ubay Bin Salul yang bermuwalat bersama orang-orang Yahudi bani Qainuqa yang merencanakan pembunuhan terhadap Nabi SAW. Abdullah bin Ubay Bin Salul mempunyai sikap setengah-setengah terhadap kedua belah pihak, ia tidak berperan aktif memerangi Nabi SAW bersama Yahudi bani Qainuqa tidak pula ia terang-terangan menolong pihak Rasulullah SAW bersama para sahabat.

Pada saat kaum Yahudi memerangi Nabi SAW, Ia tidak dapat melepaskan keterlibatannya dari kaum Yahudi secara total dengan alasan “kami takut mendapatkan bencana” yakni kerugian duniawi. Demikianlah orang munafik sikapnya ditentukan oleh pertimbangan keuntungan materi sehingga membuatnya tidak mempunyai arahan sikap yang pasti.

Sebagaimana Allah SWT telah Berfirman:

مُّذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لاَ إِلَى هَؤُلاء وَلاَ إِلَى هَؤُلاء وَمَن يُضْلِلِ اللّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُ سَبِيلاً ﴿١٤٣﴾

“Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. [QS:An-Nisa/4 ayat 143]

Deden Sajidin

(Andy AbdulHamid)