Jakarta, Aktual.com – Kondisi politik dalam negeri Myanmar yang tidak kunjung stabil, khususnya sejak kudeta terhadap pemimpin Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Aung San Suu Kyi 1 Februari lalu oleh militer.

Ratusan orang telah dilaporkan meninggal dalam bentrok antara massa pendukung NLD dan militer.

Kebrutalan militer Myanmar baru-baru ini juga diperlihatkan dengan kematian seorang anak perempuan berusia 7 tahun, di Kota Mandalay, Selasa (23/3) lalu.

Diketahui anak perempuan itu tewas di pangkuan sang ayah, setelah mendapatkan tembakan yang berasal dari senjata militer yang mendatangi rumah mereka.

Meningkatnya eskalasi dalam negeri Myanmar, juga menyisakan hal lain, yaitu potensi berpindahnya warga ke sejumlah negara tetangga terdekat.

Thailand misalnya, menjadi negara yang siap untuk menampung para pengungsi di wilayah perbatasan.

Pemerintah setempat bahkan telah menyediakan shelter khusus para pengungsi.

“Thailand mengikuti perkembangan di Myanmar dengan berbagai fokus,” ungkap Tanee Sangrat, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Thailand awal pekan ini, Jumat (26/3).

Sangrat menyatakan, negaranya prihatin atas berbagai dampak yang ditimbulkan akibat kekerasan yang terjadi di Myanmar.

“Seperti banyak negara dimana kami bersedih terhadap mereka yang meninggal, mereka yang menderita, akibat eskalasi kekerasan di dalam negeri,” tambahnya.

Negara tetangga lainnya, India, juga menyatakan siap menerima para pengungsi Myanmar karena alasan kemanusiaan.

“Mengirim kembali mereka (pengungsi Myanmar-red) itu artinya membunuh mereka. Sebab, kapanpun kita mengirim mereka kembali, bisa saja polisi maupun tentara di sana menembak dan membunuh mereka. Itulah dari sudut pandang kemanusiaan,” ucap K Vanlalvena, anggota parlemen Mizoram dari partai Front Nasional Mizo (MNF), dalam wawancara di Asian News International (ANI), Rabu (24/3).

Secara georgrafis, Negara Bagian Mizoram dengan Ibu Kota Aijal, berbatasan dengan Myanmar di bagian timur.

K Vanlalvena juga menyatakan, para pengungsi Myanmar yang kabur dari negaranya untuk menghindari kebrutalan militer itu dianggap sebagai saudara.

“Kami tidak ingin mengirim kembali mereka (ke Myanmar-red), sebab mereka adalah saudara kami,” pungkasnya.

Kudeta militer terhadap Suu Kyi dan menimbulkan protes para pendukungnya namun kerap bentrok dengan pasukan militer.

Dan hal tersebut mendorong kelompok pemberontak Tentara Arakan (AA) yang menyatakan siap bergabung melawan kudeta.

Dilansir CNN Indonesia, Tentara Arakan menyatakan berdiri bersama rakyat untuk melawan kudeta.

“Sangat menyedihkan bahwa orang-orang tidak bersalah ditembak dan dibunuh di Myanmar,” kata juru bicara AA Khine Thu Kha dalam sebuah pesan, Selasa (23/3) seperti dikutip dari Reuters.

Tentara Arakan adalah kelompok pemberontak yang sebagian beragama Buddha.

Kelompok itu dibentuk oleh orang-orang Arakan, Rakhine, di Myanmar.

Pada Maret tahun lalu, pemerintah Myanmar menetapkan Tentara Arakan sebagai kelompok teroris dan melanggar hukum.

Namun, status itu dicabut oleh junta militer ketika negara tersebut dilanda kudeta.(RRI)

(Warto'i)