Beranda Internasional Tak Lagi Bisa Bekerja, 200 Pekerja Migran Indonesia di Inggris Butuh Pertolongan

Tak Lagi Bisa Bekerja, 200 Pekerja Migran Indonesia di Inggris Butuh Pertolongan

Gede Suardika Widi Adnyana mengaku terpaksa berutang dan membayar sebesar Rp 70 juta supaya dapat bekerja di Inggris (BBC News)

Inggris, aktual.com – Sebanyak 200 orang pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja musiman di Inggris, meminta bantuan diplomatik sejak Juli lalu usai mengaku sulit mendapatkan pekerjaan di negara tersebut. Menurut laporan The Guardian, para PMI tersebut mengaku sudah tidak bisa bekerja lagi secara normal lantaran khawatir dengan jaminan visa yang sudah habis tersebut.

Sebagai informasi, visa pekerja musiman di Inggris hanya memungkinkan siapapun untuk datang ke Inggris dan bekerja hingga enam (6) bulan di sana. Meskipun tidak ada jaminan pekerjaan bagi mereka dalam periode waktu tersebut.

Seorang PMI yang bekerja di sebuah ladang pertanian Castleton, mengatakan dirinya berulang kali dikirim kembali ke mobil karavan (tempat penampungan) setelah hanya beberapa jam bekerja di lapangan dan tidak mampu memenuhi target pemetikan buah. Akibatnya, setelah dua bulan bekerja tanpa memenuhi target, dia pun diberhentikan dan dipindahkan ke sebuah peternakan di Kent. Sayangnya, pekerjaan di sana pun hanya berlangsung hingga awal November.

Padahal sebagian besar dari mereka berangkat pada April lalu dengan meminjam uang. Untuk dapat berangkat ke Inggris, mereka harus membayar kepada agen lokal dengan harga besar sekitar Rp 90 juta.

Menurut salah seorang staf kedutaan Indonesia, jumlah PMI yang mengalami masalah visa tersebut mungkin jauh lebih banyak. Sebab masih banyak PMI yang tidak mau atau tidak percaya diri menyampaikan permasalahannya kepada kedutaan.

Sebagian PMI tersebut akhirnya mulai mencari bantuan untuk memulihkan status imigrasinya. Mereka mengira pembaharuan visa dapat digunakan untuk mencari pekerjaan yang lain. Pada saat bersamaan, para PMI tersebut juga mengeluhkan kondisi kehidupan di mobil karavan lantaran cuaca di Inggris yang semakin dingin.

“Saat ini kebanyakan PMI tersebut menghubungi kami (Kedubes Indonesia) karena tidak ada lagi pekerjaan di peternakan dan ladang pertanian. Mereka minta pindah tempat kerja, tetapi AG Recruitment memberi tahu tidak ada pekerjaan lain yang tersedia,” kata dia.

Sebelumnya, The Guardian juga melaporkan bahwa pemberangkatan penempatan PMI ke Inggris tersebut dilakukan AG Recruitment dengan melibatkan perusahaan penempatan PMI (P3MI) PT Alzubara Manpower Indonesia. Dalam upaya perekrutan tersebut, disinyalir terdapat pembebanan biaya setinggi langit alias overcharging yang dibebankan kepada para pekerja migran Indonesia.

Menurut The Guardian, sekitar 1.450 PMI berada di Inggris dengan visa pekerja musiman. Mereka disuplai AG Recuitment, salah satu dari empat agensi pekerja di Inggris yang memiliki lisensi untuk melakukan perekrutan dan penempatan kerja.

(Megel Jekson)