Jakarta, Aktual.co — Pakar Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Dr Soedjatmiko mengatakan bahwa perburuan batu mulia dan akik tak perlu ditakutkan karena hingga kini belum ada berita kerusakan alam yang disebabkan oleh fenomena itu.
“Masyarakat khususnya di Jabar masih menggunakan cara sederhana untuk mencari batu mulia. Belum ada penambangan batu mulia yang merusak alam,” kata Soedjatmiko, di Bnadung, Minggu (10/5).
Menurut dia, proses pengambilan batu mulia ini tidak serumit mencari emas perak atau timah yang harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu.
Pengolahan batu mulia sangat ramah lingkungan karena tidak meninggalkan limbah yang berbahaya. Namun, dirinya tak menampik kemungkinan untuk waspada terhadap oknum yang mencoba menyalahgunakan pengambilan batu mulia di masa mendatang.
“Sejauh ini masih dilakukan ramah lingkungan tapi harus diwaspadai terhadap oknum yang menyalahgunakan pengambilan batu mulia ini,” katanya.
Sejak awal tahun 2015, fenomena batu akik mulai merambah berbagai kalangan usia di Indonesia menyusul menjamurnya para pengrajin batu akik di berbagai pelosok.
Upaya untuk menaikkan pamor batu mulia sebagai hasil bumi yang berharga seperti emas, dimulai sejak 20 tahun yang lalu, namun terganjal karena kurang mendapat dukungan.
“Saya berjuang untuk mengenalkan kepada pemerintah usaha menaikkan pamor batu mulia agar bisa menjadi potensi untuk negeri ini. Tetapi kurangnya wawasan dari pemerintah membuat proyek ini sempat terhenti sehingga diulang dari awal,” kata Sujatmiko.
Melihat fenomena tersebut seharusnya bisa memprediksi potensi batu mulia ini akan menaikkan ekonomi negara.
Artikel ini ditulis oleh:

















