Jakarta, Aktual.co — Teater Jabal School SMK Nurul Falah Yayasan Pendidikan Islam Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Falah (YPIPPNF) Gunungtiga Pugung Tanggamus, berpartisipasi dalam Festival Teater Pelajar Nasional dengan memanggungkan naskah berjudul “Pada Suatu Hari” karya Arifin C Noer.
Kepala SMK Nurul Falah Wahidun, didampingi Ketua Yayasan YPIPPNF Ustad H Junaedi AR BcHk, di Tanggamus, Rabu (5/11), menjelaskan, pihaknya diundang Teater Satu Bandarlampung mengikuti kegiatan yang berlangsung di Taman Budaya Lampung mulai 2-7 November 2014.
“Secara garis besar drama terebut menceritakan tentang kehidupan rumah tangga pada umumnya. Kehidupan rumah tangga selalu ada konflik atau kecemburuan. Akan tetapi dalam naskah drama ini masalah tersebut bisa menjadi besar apabila tidak ditanggapi dengan baik,” ujar Wahidun.
Menurut dia, naskah drama tersebut termasuk ke dalam drama prosa, disajikan dengan dialog yang mudah dipahami. Unsur-unsur yang digunakan menyerupai prosa fiksi.
“Dalam naskah juga dijelaskan dengan mendetail ekspresi-ekspresi tokohnya. Naskah drama ini mengangkat tema sehari-sehari yang terjadi dalam masyarakat tentang kehidupan rumah tangga yang dipenuhi dengan konflik kecil bahkan bisa berujung pada perceraian,” kata Wahidun lagi.
Drama karya Arifin itu, menurutnya, sarat akan nilai sosial dalam kehidupan sehari-hari.
“Drama ini menyajikan tokoh-tokoh nyata yang ada dalam masyarakat, mulai dari rasa tidak saling percara, mudah marah, kecemburuan, iri hati dan penyakit-penyakit hati lainnya. Arifin C Noor mengungkapkan dengan baik nilai-nilai tersebut ke dalam drama ini,” katanya pula.
Tokoh-tokohnya diberi karakter kuat, sehingga bisa menunjukkan konflik yang ada dalam drama ini. “Belum lagi kita dibuat gemas oleh tokoh Nyonya Wenas yang genit. Tokoh ini membuat konflik semakin terasa,”‘ ujarnya.
Disajikan dengan tema tentang konflik kehidupan rumah tangga, terutama antara suami dan istri, dalam drama ini menggunakan alur maju, dilatarbelakangi oleh konflik antara kakek dan nenek.
Kemudian berlanjut pada konflik Novia dan suaminya. Konflik keduanya mirip, sehingga bisa dianalogikan sebagai sebuah akibat pertengkaran nenek dan kakek yang juga dialami Novia.
Dialog-dialog yang digunakan sangat padat, sehingga memahami drama ini harus memahami dari dialog, karena cerita yang dibangun murni dari dialog, katanya pula.
Dialog yang digunakan kadang juga dibuat simbol-simbol, dengan latar rumah kakek dan nenek, sekitar siang hari.
Pada pagi hari ditandai dengan kedatangan janda dan beranjak siang datanglah Novia beserta anak-anaknya. Pesan-pesan moral bisa dilihat dalam dialog-dialoh tokohnya, antara lain pentingnya sebuah sikap saling percaya kepada pasangan.
Padahal sikap saling percaya itu sangat penting dalam kehidupan berumah tangga, sehingga jika rasa saling percaya itu sudah hilang, maka yang terjadi adalah pertengkaran yang berujung perceraian, ujarnya.
“Arifin sangat memahami permasalahan ini, sehingga dia membuat dialog-dialog yang sederhana tapi sarat akan makna. Perceraian yang semakin marak terjadi bisa disebabkan oleh sikap seperti itu. Drama ini layak menggambarkan fenomena sosial yang sedang marak terjadi,” ujar Wahidun lagi.
Program Kala Sumatra III diselenggarakan oleh Teater Satu Lampung bekerjasama dengan Hivos Nederland, dengan tujuan mengembangkan apresiasi pelajar terhadap seni teater dan turut menunjang pendidikan yang berbasis kompetensi.
Panitia menyediakan delapan pilihan naskah dari pengarang-pengarang di Indonesia dan luar negeri, yakni Kisah Cinta Dan Lain-Lain serta Pada Suatu Hari karya Arifin C Noor.
Lalu Kisah Cinta Hari Rabu, Penagih Hutang dan Pinangan karya Anton Chekov. Selanjutnya, Pagi Bening karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero. Lantas, Barabah karya Motinggo Busye, dan Lengit karya Imas Sobariah.
Dewan juri yang akan menilai penampilan para peserta merupakan orang-orang yang berkompeten, antara lain Jamaludin Latif, seniman teater yang sempat mengenyam pendidikan di Akademi Seni Drama dan Film Indonesia(Asdrafi) Yogyakarta, Edi Suwisno dari ISI Padang Panjang, Ari Pahala Hutabarat dari Komunitas Berkat Yakin Lampung, dan Yani Maimunah dari STSI Bandung.

()