Jakarta, Aktual.co — Tentara Irak mengatakan bahwa pihaknya berhasil menggagalkan serangan sengit para petempur Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) terhadap kilang minyak di Baiji, di Provinsi Salahuddin.
Para petempur ISIS, yang juga dikenal sebagai Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) dan Negara Islam (IS) melancarkan serangan terhadap kilang Baiji dengan empat kendaraan jebakan ditambah dengan tembakan berat, tetapi aparat keamanan melindungi fasilitas itu menggagalkan serangan.
Regu-regu anti-terorisme saling baku-tembak dengan militan ISIS.
Sementara itu, kementerian dalam negeri Irak membantah laporan-laporan pers bahwa orang-orang bersenjata ISIS sampai di pinggiran ibu kota Baghdad, dan bahwa ada bentrokan di dekat Bandar Udara Internasional Baghdad.
Menurut laporan AFP sebelumnya, para pejuang ISIS Selasa telah berada di kota Irak Amriyat al-Fallujah, salah satu yang terakhir masih dikuasai oleh pemerintah di provinsi bermasalah Anbar, kata kepala polisi Irak.
“ISIS telah datang dari tiga arah, kami hampir terkepung,” kata Aref al-Janabi kepada AFP melalui telepon.
“Sejauh ini kami masih berada di sini,” katanya. “Kami memiliki beberapa dukungan dari para pejuang suku, tetapi jika Amriyat jatuh, pertempuran akan pindah ke gerbang Baghdad dan Karbala.” Amriyat al-Fallujah terletak sekitar 35 kilometer (20 mil) barat perbatasan Baghdad, dan para pejuang ISIS harus menguasai bentangan darat signifikan yang dikendalikan pemerintah sebelum mencapai ibu kota.
Kota ini juga terletak di antara benteng ISIS Fallujah, lebih lanjut ke Sungai Efrat, dan daerah yang diperebutkan Jurf al-Sakhr, yang menuju akses ke kota suci Syiah Karbala.
Pasukan pemerintah telah menderita serangkaian kemunduran militer di Anbar dalam beberapa pekan terakhir, mendorong beberapa pejabat memperingatkan bahwa seluruh provinsi bisa jatuh dalam beberapa hari ini.
Tentara ditarik keluar dari pangkalan dekat kota Heet dan bergabung kembali di pangkalan udara besar di gurun, sementara pasukan pemerintah berjuang untuk mempertahankan wilayah mereka di ibu kota Provinsi Ramadi.
Beberapa pejabat di Anbar berpendapat bahwa sesingkat apapun intervensi oleh pasukan darat AS akan menyebabkan Anbar jatuh ke tangan jihad.
Pada Selasa, seorang pemimpin suku Sunni yang berbasis di Kurdistan, Sheikh Ali Hatem al-Suleiman, bahkan menyerukan pasukan dari negara-negara Arab yang terlibat dalam koalisi anti-jihad yang dipimpin AS untuk kembali ke Irak.
Tetapi kepala pemerintahan yang didominasi Syiah Irak, Perdana Menteri Haidar al-Abadi, telah mengesampingkan intervensi darat tentara asing itu.

()