Jakarta, Aktual.com Irjen Pol Napoleon Bonaparte menyebut keterangan saksi Tommy Sumardi merupakan keterangan palsu.

Hal itu disampaikan Napoleon seusai persidangan mendengar keterangan saksi Tommy Sumardi dalam di Pengadilan Tipikor, Senin (4/1/2021) malam.

Salah satu keterangan palsu yang disampaikan Tommy yakni soal Irjen Napoleon telah menerima uang secara bertahap sebesar SG$200 ribu dan US$270 ribu untuk pengurusan red notice atas nama Djoko Soegiarto Tjandra. Padahal, menurut Napoleon, keterangan itu berbeda dari keterangan saksi-saksi yang saling berkesesuaian, dihubungkan dengan alat bukti petunjuk rekaman CCTV.

“Terungkapnya keterangan palsu saksi Tommy Sumardi di depan persidangan, telah menghancurkan bangunan skenario rekayasa kasus (legal engineering) yang disusun selama penyidikan, sekaligus mematahkan dakwaan jaksa penuntut umum, yang secara sengaja menelan mentah-mentah keterangan palsu Tommy Sumardi dalam penyidikan,” kata Napoleon dalam siaran pers yang dibagikan seusai sidang yang berlangsung hingga pukul 23.00 WIB itu.

Rangkaian kebohongan yang dilakukan saksi Tommy Sumardi, yang antara pelbagai kebohongan itu, kata Napoleon terdapat hubungan sedemikian rupa, dan kebohongan yang satu, melengkapi kebohongan yang lain, sehingga secara timbal balik, menimbulkan sutau gambaran palsu, seolah-olah merupakan suatu kebenaran.

“Padahal sejatinya adalah keterangan palsu, yang oleh penuntut umum dijadikan bahan baku pembuatan surat dakwaan,” ujar mantan Kadivhubinter Polri itu.

Diketahui, kata Napoleon, berdasarkan keterangan Tommy Sumardi di depan persidangan bahwa tanggal 27 April 2020, bersama Brigjen Prastyo Utomo, dia datang menemui dirinya di ruang kerja lantai 11 gedung TNCC Mabes Polri. Namun keterangan zaksi Tommy Sumardi, baik di BAP, maupun di persidangan terkait peristiwa tanggal 27 April 2020, kata Napoleon terpatahkan oleh barang bukti, petunjuk rekaman CCTV, yang diputar di depan persidangan, yang memperlihatkan pada pukul 15.54 WIB, Tommy Sumardi dan saksi Brigjen Prasetijo Utomo turun dari mobil Alphard warna putih, nomor polisi B-114-FAU, berjalan masuk lobby gedung TNCC Mabes Polri, Jakarta Selata, dan keluar lobby gedung TNCC Mabes Polri pada jam 16.02 WIB, yang artinya hanya menelan waktu selama 8 menit.

“Waktu 8 menit habis terpakai, hanya untuk masuk Gedung TNCC Mabes Polri, berjalan menuju depan lift lantai 1, menunggu pintu lift terbuka, lalu naik ke lantai 11, kemudian turun lagi, menunggu pintu lift terbuka untuk menuju lantai 1, dan berjalan keluar Gedung TNCC Mabes Polri,” katanya.

Padahal setelah naik ke lantai 11 dan masuk ke ruang Kadivhubinter Polri, kata Napoleon, Tommy Sumardi mengaku bertemu dulu dengan staf terdakwa Irjen Napoleon Bonaparte untuk meminta diberitahukan perihal kedatangannya kepada Kadivhubinter. Baru kemudian dipersilahkan masuk dan bertemu.

Saat pertemuan, saksi Tommy Sumardi mengaku melihat Prasetijo Utomo menyerahkan uang sebesar USd 50.000 kepada Irjen Napoleon Nonaparte, namun ditolak oleh Irjen Napoleon Nonaparte. Bahkan menurut keterangan saksi Tommy Sumardi lagi, terjadi negosiasi dimana Irjen Napoleon Nonaparte menaikkan permintaan dari Rp3 miliar menjadi Rp7 miliar, dengan alasan “untuk petinggi kita yang menempatkan saya”.

Atas permintaan tersebut, lanjut Napoleon, Tommy Sumardi malahan mengaku sempat menelpon Joko Soegiarto Tjandra untuk minta persetujuan. Rekaman CCTV yang membuktikan Tommy Sumardi hanya 8 menit berada di dalam gedung TNCC Mabes Polri, berkesesuaian dengan berita acara konstruksi. Dalam adegan No 8 diterangkan bahwa tanggal 27 April 2020 jam 15.54 WIB, Tommy Sumardi, tersangka Prasetijo Utomo turun dari mobil Alfhard warna putih nopol B-114-FAU berjalan masuk lobby gedung RNCC Mabes Polri, Jakarta Selatan. Ketika itu, kata Napoleon tersangka Brigjen Prasetijo Utomo membawa paper bag warna gelap.

Kemudian ada adegan nomor 13 diterangkan pada tanggal 27 April 2020 jam 16.02 WIB, tersangka Tommy Sumardi dan tersangka Prasetijo Utomo, meninggalkan Lobby gedung TNCC Mabes Polri, Jakarta Selatan dan masuk ke dalam mobil Alphard warna putih nomor polisi B-114-FAU yang didalamnya ada saksi Winarno aias Wiwid dan saksi Supiadi. Tersangka Brigjen Prasetijo Utomo membawa paper bag warna gelap.

Berdasarkan fakta tersebut, lanjut Napoleon, maka kesaksian Tommy Sumardi di depan persidangan, tentang adanya peristiwa pertemuan yang menghasilkan kesepakatan hasil negoisasi dengan terdakwa Irjen Napoleon Bonaparte di ruang kerjanya yang meminta biaya dinaikan menjadi sebesar Rp7 miliar, dan dikonsultasikan melalui telepon kepada Joko Soegiarto Tjandra, adalah merupakan keterangan palsu.

Pertemuan semacam itu dimana ada negosiasi segala membutuhkan waktu minimal 15 menit. Faktanya, kedatangan saksi Tommy Sumardi pada tanggal 27 April 2020 ke Gedung TNCC Mabes Polri hanya membutuhkan waktu 8 menit.

“Sejatinya pada tanggal 27 April 2020 itu, Saksi Tommy Sumardi tidak bertemu dengan Terdakwa Irjen Pol Napoleon Bonaparte. Hal ini berkesesuaian dengan kesaksian Terdakwa Irjen Pol Napoleon Bonaparte, saksi Fransiscus Dumais, dan saksi Dwi Jayanti Putri, dan Brigjen Prasetijo Utomo yang kompak menyatakan pada tanggal 27 April 2020 itu Tommy Sumardi tidak bertemu Terdakwa Irjen Pol Napoleon Bonaparte,” ujarnya lagi.

Kesaksian palsu Tommy Sumardi, kata Napoleon, diulangi lagi dalam memberikan keterangan tentang peristiwa pertemuan dan penyerahan uang tanggal 28 April 2020, 29 April 2020. Begitu juga, keterangan palsu Tommy Sumardi yang lainnya juga terbongkar habis. Termasuk pengakuan palsunya, yang menyatakan tidak pernah bertemu lagi Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo pada sepanjang tahun 2020.

Usai Tommy Sumardi mengaku seperti itu di depan persidangan, terdakwa Napoleon Bonaparte lalu maju ke depan menghampiri meja majelis hakim menyerahkan bukti foto Tommy Sumardi tengah berada di ruang kerja Kabareskrim, memimpin doa ulang tahun Komjen Listyo Sigit Prabowo yang dirayakan secara terbatas pada tanggal 5 Mei 2020.

Menurut Napoleon, semua keterangan saksi Tommy Sumardi selain palsu juga dikualifisir sebagai kesaksian “Unus Testis Nullus Testis (satu saksi bukan bukti) hingga tidak dapat dijadikan alat bukti yang sah.

Seperti pada bulan Maret 2020, sebelum mengenal terdakwa Napoloen Bonaparte, atas permintaan Djoko Soegiarto Tjandra untuk mengecek red notice di Divhubinter Polri, Tommy Sumardi meminta uang sebesar Rp25 miliar kepada pemilik Hotel Mulia itu.

Disitu, kata Napoleon terjadi negosiasi, Djoko Sugiarto Tjandra meminta diturunkan Rp5 milliar. “Saat itu saya tidak setuju, seminggu kemudian, Joko Soegiarto Tjandra mengubungi saya kembali untuk membicarakan berapa yang saya minta terkait pengurusan red notice tersebut dan pada saat itu disetujui Rp10 milyar akan diserahkan kepada saya untuk mengurusan pengecekan red notice,” ujar Tommy Sumardi di depan persidangan.

Rekaman Tommy

Di akhir kesaksian Tommy Sumardi, kemudian Napoloen secara mengejutkan meminta kepada majelis hakim untuk memutar rekaman testimoni Tommy Sumardi di kamar tahanan sesaat setelah ditahan. Permintaan tersebut tidak dikabulkan majelis hakim untuk diperdengarkan tadi malam. Namun diperbolehkan diputar pada saat pemeriksaan terdakwa.

Terdakwa Napoloen akhirnya membacakan isi transkrips testimoni yang berisi pengakuan Tommy Sumardi. Diantaranya, bahwa kasusnya dan Napoleoen itu direkayasa Kabareskrim Polri, dengan motif untuk menyelamatkan Komjen Listyo Sigit Prabowo dari pertarungan tahta Kapolri yang bakal digelar pada Januari 2021.

Dalam persidangan Tommy Sumardi mengaku telah mengenal Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo sejak masih menjabat Kapolsek Kalimalang, berpangkat Ajun Komisaris Polisi. Tatkala skandal Djoko Soegiarto Tjandra mencuat nama Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo menurut Tommy Sumardi dikaitan terlibat, sehigga dihantam kelompok kiri dan kanan termasuk datang dari arah Pasar Minggu (BIN).

Jalan satu-satunya untuk membantah ketidakterlibatannya dalam skandal Djoko Soegiarto Tjandra, adalah dengan mentersangkakan Tommy Sumardi sebagai pemberi suap. Lantaran Tommy Sumardi dijadikan sebagai pihak pemberi maka harus ada pihak penerima suap.

Untuk itu ditetapkanlah Napoleon dan Brigjen Prasetijo Utomo sebagai pihak penerima suap. Padahal sesuai testimoni Tommy Sumardi, uang dari Joko Soegiarto Tjandra sejatinya tidak pernah diserahkan kepada terdakwa Irjen Napoleon Bonarte. Melainkan masih ada di brankas Tommy Sumardi.

Selanjutnya, kata Napoleon, Tommy Sumardi mengaku, lawyer untuk dirinya dan Joko Soegiarto Tjandra dipersiapkan oleh Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo. Keterangan Tommy Sumardi di BAP yang ada kalimat yang tengah berada di Bareskrim hendak menghadap Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo dihilangkan.

Lalu, kata Napoleon, Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo membawa BAP saksi Tommy Sumardi yang sudah diubah itu ke Presiden Joko Widodo guna mengklarifikasi dirinya tidak terlibat dalam skandal kasus Joko Soegiarto Tjandra.

Atas dasar itu, Napoleon berpendapat bahwa Tommy Sumardi terbukti memberikan keterangan palsu di muka persidangan dapat diancam dengan sangsi pidana sebagaimana yang diatur dalam pasal 22 UU tipikor. Dan pada sisi lain meruntuhkan bangunan dakwaan jaksa penuntut umum secara keseluruhan dan mendasar.

(Wisnu)