Jakarta, Aktual.co — Pengamat Energi dari Migas Watch, Widodo Edi Setyanto mengatakan bahwa setiap perusahaan minyak dan gas (migas) tentu memiliki tim ahli trading untuk membaca dan memprediksi pergerakan harga migas beberapa waktu mendatang. Hal itu dinilainya penting guna meminimalisir kerugian suatu perusahaan dalam menjalankan bisnisnya.
“Pasti dalam satu perusahaan itu ada ahli trading, yang melihat dari ekonomi dunia atau harga minyak dunia, politik dunia, pasar keuangan, bagaimana pertumbuhan ekonomi di negara-negara minyak terbanyak di dunia. Juga dengan masalah konflik di Timur Tengah. Itu semua bisa diprediksi kan,” ujar Widodo saat berbincang dengan Aktual di Jakarta, Selasa (12/5).
Ia mencontohkan, misalkan, konflik Yaman, ketika harga minyak sedang turun, kemudian akibat konflik tersebut harga sedikit naik dari USD50 per barel menjadi menyentuh ke level USD60 per barel.
“Kemudian pada kasus anjloknya minyak dunia dari USD100 per barel hingga ke USD50 per barel, itu kan sudah diprediksi sebelumnya dikarenakan Amerika Serikat yang mengembangkan shale oil,” terangnya.
Sehingga, sambungnya, AS pun tidak lagi membeli minyak dari Tim Tengah. Sementara negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah enggan menurunkan produksinya, akhirnya stok minyak membanjiri dunia, Artinya minyak turun.
“Disitulah analis trading oil bekerja. Sama halnya dengan gas tentu bisa teramal karena gas juga kan kebanyakan produksinya dari timur tengah. Bohong itu, harga apapun bergantung pada situasi dunia, pada kondisi global. Apalagi ini kan komoditas. Artinya bisa teramal semua,” jelas Widodo.
Meski begitu, Widodo tidak menampik fakta bahwa biasanya hasil analisis terhadap harga migas ke depan justru malah dimanfaatkan untuk mencari keuntungan pribadi.
“Tim analis pasti ada dan analisis perkembangan harga juga pasti ada, tapi itu justru biasanya dipakai untuk mencari keuntungan pribadi, kongkalikong dengan trader-trader,” tandas dia.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka















