Jakarta, Aktual.co – Sebagian kalangan menilai bahwa peredaran beras plastik di pasaran bukan semata karena ingin meraup keuntungan bisnis, lebih dari itu terselip motif lain seperti pengalihan isu hingga motif politik di dalamnya. Anggota Komisi IV, Firman Soebagyo turut angkat bicara terkait motif dalam kasus peredaran beras plastik ini. Menurutnya, motif dibalik peredaran beras plastik adalah skenario untuk menghancurkan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog).
Firman curiga ada sekelompok tertentu yang berusaha ingin menghancurkan Bulog dengan mengedarkan beras plastik hingga dicampur ke beras raskin (beras miskin). “Ini rekayasa sedemikian rupa oleh kelompok tertentu yang ingin menghancurkan Bulog. Karena itu sekarang sudah mulai ada juga beras plastik ditemukan bercampur di raskin (beras miskin). Raskin itu siapa pennyelengaraanya? Bulog,” kata Firman di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, ditulis Rabu (27/5).
Politikus dari Fraksi Golkar ini menduga ada kelompok yang khawatir Badan Urusan Logistik (Bulog) diperkuat menjadi lembaga buffer stock (penyangga harga) atau menjadi lembaga pangan nasional. Sehingga mafia pangan jadi tidak bisa lagi mengendalikan harga beras dan meraup keuntungan besar.
Kelompok yang mengatur distribusi beras itu, lanjut dia, paling diuntungkan dengan kisruh harga pangan, lantaran harga beras saat ini dikendalikan oleh mekanisme pasar dan sangat terpengaruh hukum supply-demand.
Hingga kini belum dapat dipastikan melalui jalur mana beras plastik ini masuk ke pasaran. Apabila melalui jalur ilegal, tentu tidak dapat dipastikan dari mana beras sintetis ini masuk. Namun jika menggunakan cara impor legal, akan muncul isu beras impor premium disusupi beras plastik.
“Beras campuran itu indikasinya adalah satu disebarkan ke pasaran. Dua dimasukkan ke Bulog tadi supaya posisinya terpojokkan. Muncul ketidakpercayaan publik, sehingga pemerintah mengambil kebijakan bubarkan bulog. Ini politiknya,” terang dia.
Sayangnya, Firman tidak serta-merta menyebutkan dengan rinci pihak yang diduga ingin menghancurkan Bulog. Dia meminta agar pihak terkait melakukan investigasi untuk meneliti masuknya beras itu legal atau ilegal.
Sebelumnya, pemerintah dan Polri juga telah mengumumkan hasil penelitian atas sampel beras sintetis tersebut. Berdasarkan uji atas sampel beras yang dilakukan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM), Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Pusat Laboratorium Forensik Polri, ternyata tidak ditemukan beras yang bercampur plastik.
“Hasil pemeriksaan laboratotium forensik itu negatif. Tidak ada unsur plastik dari hasil pemeriksaan laboratorium itu,” ujar Kapolri Jenderal Badrodin Haiti di kantor Presiden, Jakarta, Selasa (26/5).
Untuk mempertegas hasil uji laboratorium itu, kata Badrodin, dirinya bersama Menteri Perdagangan Rahmat Gobel telah meminta sample yang masih tersisa di Sucofindo untuk diperiksa lagi di laboratorium BPOM dan Puslabfor Polri. Sebab, sebelumnya penelitian Sucofindo menunjukkan adanya kandungan sintetis dalam beras yang diuji.
Namun, dari pemeriksaan ulang itu ternyata tak ditemukan kandungan sintetis. “Hasilnya juga negatif,” tegas Badrodin.
Artikel ini ditulis oleh:












