Probolinggo, Aktual.com – Terumbu karang yang menjadi salah satu destinasi wisata di Pantai Binor, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur mengalami kerusakan.

“Rusaknya terumbu karang diduga karena sandaran kapal tongkang bermuatan batu bara pada 14 Agustus 2018, sehingga terumbu karang 176 x 30 meter atau 5.280 meter persegi rusak,” kata Ketua Kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) Kranji, Johan Okta Riyanto di Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Rabu (29/8).

Ia mengaku sudah melaporkan kerusakan terumbu karang tersebut kepada Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo yang diteruskan ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Timur dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Laporan kami ditindaklanjuti dengan pertemuan dengan DKP Jatim dan KKP melalui Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Benoa dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Denpasar,” tuturnya.

Sementara Kabid Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo Wahid Noor Aziz mengaku sudah mendapatkan laporan adanya terumbu karang yang rusak beberapa waktu lalu. “Setelah dilakukan survei langsung di perairan dan memang benar ada kerusakan. Jadi dokumentasi yang dilaporkan Pokmaswas Kranji benar dan bukan rekayasa,” katanya.

Beberapa pihak yang melakukan survei lokasi rusaknya terumbu karang yakni Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Benoa dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar.

“Dinas Perikanan Probolinggo, Dinas Lingkungan Hidup Probolinggo dan juga perusahaan di PLTU Paiton juga ikut survei yang dilaksanakan hingga Kamis (30/8), sehingga hasilnya akan diputuskan dalam musyawarah pada Jumat (31/8),” ujarnya.

Kasi Program Evaluasi Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar Permana Yudiarso mengatakan penghitungan kerusakan terumbu karang bisa menggunakan teori matematis.

“Misalnya luasannya 100 meter persegi, dibuat arsiran 100 bidang. Lalu dihitung titik mana saja yang rusak per meter persegi, sehingga bisa diketahui persentase kerusakannya,” katanya.

Menurutnya solusi yang bisa diambil adalah kegiatan transplantasi terumbu karang oleh pihak yang bertanggung jawab, meskipun hingga kini masih belum dipastikan kapal tongkang milik siapa yang menjadi penyebab kerusakan terumbu karang di perairan Pantai Binor itu.

“Terumbu karang yang rusak itu terbentuk secara alami, sehingga membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk bisa mendapatkan terumbu karang dengan ukuran yang sama,” ujarnya.

 

Ant.

Artikel ini ditulis oleh: