Jakarta, Aktual.co — Dalam pekan ini Indonesia menggelar peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) yang dihadiri oleh para petinggi dari 109 negara. Pidato Presiden Joko Widodo dalam Pembukaan KAA 2015 yang menyebutkan bahwa dominasi negara-negara maju di World Bank, IMF, dan ADB harus segera diakhiri dapat menjadi momentum penting reposisi peran Indonesia dalam perekonomian global.
“Sebagai anggota kelompok negara maju G-20 dan sebagai pelopor KAA, Indonesia seharusnya dapat mengoptimalkan forum-forum internasional seperti ini untuk menggalang kekuatan dan memperjuangkan kepentingan bersama negara-negara berkembang khususnya dalam forum-forum internasional yang lebih luas,” ujar Direktur Penelitian, Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, Ph.D dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (23/4).
Menurutnya, akan sangat disayangkan, apabila perhelatan tingkat tinggi dengan anggaran yang besar ini hanya berlalu dengan meninggalkan dokumen dan komitmen yang minim realisasi. Ada tiga catatan Core terkait pelaksanaan KAA di Indonesia.
“Pertama, Indonesia semestinya dapat mengambil banyak pelajaran berharga (lessons learned) dari keberhasilan beberapa negara Asia yang mampu bangkit ekonominya dari ketertinggalan hingga menjadi negara yang maju dan disegani,” jelasnya.
Dikatakannya, Korea merupakan negara Asia yang berhasil melakukan transformasi menjadi negara maju berpendapatan tinggi dengan mengandalkan pembangunan industri manufaktur berteknologi tinggi. Tiongkok berhasil menjadi raksasa ekonomi dunia dan mereduksi tingkat kemiskinan secara fantastis melalui industrialisasi dan mendorong investasi secara besar-besaran; serta negara tetangga Malaysia yang tidak hanya mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dengan sangat signifikan mendongkrak kualitas sumber daya manusianya.
“Kedua, Indonesia semestinya dapat berperan lebih besar dan lebih konkrit dalam mendorong kemajuan ekonomi negara-negara Asia dan Afrika. Antara lain mendorong kerjasama perdagangan yang lebih berkeadilan (fair trade), yang merupakan
langkah penting untuk memperbaiki kondisi perekonomian bagi negara-negara berkembang dan terbelakang di kawasan ini,” tambahnya.
Menurutnya, Praktik-praktik perdagangan yang tidak adil masih banyak dan sering dilakukan oleh negara-negara maju yang banyak merugikan negara-negara berkembang. Sebagai contoh, pada saat negara-negara berkembang didesak untuk mengurangi hambatan perdagangan baik dalam bentuk tarif maupun non-tarif, WTO malah membiarkan negara-negara maju menjalankan kebijakan proteksionis hingga saat ini.
“Subsidi pertanian di negara-negara maju telah membuat para petani di negara-negara berkembang terutama di kawasan Afrika kesulitan untuk bersaing di pasar global dan juga di pasar domestik negara mereka sendiri. Negosiasi dengan Uni Eropa membuat negara-negara di Afrika dipaksa untuk menghapuskan tarif pada hingga 90% dari perdagangan mereka karena tidak ada aturan yang jelas ada untuk melindungi mereka,” ungkapnya.
Beberapa permasalahan penting yang sangat krusial untuk dibahas antara lain lemahnya daya tawar negara-negara berkembang, terlebih lagi negara-negara miskin dalam negosiasi perdagangan internasional, rumitnya prosedur dan mahalnya biaya hukum penyelesaian sengketa perdagangan yang sangat menyulitkan negara-negara miskin untuk membuat pengaduan, perlakuan khusus dan berbeda bagi negara-negara berkembang yang belum belum diatur secara tuntas oleh WTO.
“Ketiga, dengan usia KAA yang sudah mencapai 60 tahun, sudah saatnya Indonesia mengintensifkan kerjasama ekonomi tidak hanya dengan negara-negara Asia, tetapi khususnya dengan negaranegara Afrika,” tambahnya.
Selama ini pemanfaatan forum negara-negara Asia–Afrika oleh Indonesia untuk kerjasama perdagangan dan investasi dengan Afrika masih sangat minimal. Asia Afrika Summit tahun 2005 yang kemudian menghasilkan New Asia Africa Strategic Partnership (NAASP) dan meliputi kerja sama di berbagai bidang pun, belum kelihatan hasilnya terutama di bidang ekonomi. Sebagai negara pemrakarsa KAA dengan status salah satu perekonomian terbesar di dunia, semestinya Indonesia mampu memanfaatkan peran yang lebih besar dalam perdagangan dengan negara -negara Afrika.
“Ironisnya, saat ini justru Tiongkok yang banyak memanfaatkan potensi ekonomi negara-negara di kawasan tersebut. Dari USD245 miliar nilai ekspor negara-negara Asia ke Afrika pada 2014, 43 persennya berasal dari Tiongkok, disusul India dan Korea masing-masing sebesar 14% dan 6%,” pungkasnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka
















