Sejumlah masyarakat menaiki bus Transjakarta di halte Bus way Cipinang, Jakarta Timur, Jum'at (13/1). PT Transjakarta mengenakan biaya tambahan Rp 2000 bagi para pengguna (E-Ticketing) yang melakukan pengisian ulang dengan uang tunai sejak awal 2017 untuk mendorong transaksi non tunai di Jakarta. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/pd/17

Jakarta, Aktual.com – PT Transportasi Indonesia memberlakukan uji coba sistem baru dalam layanan bus TransJakarta yakni wayfinding yang dikhususkan untuk koridor I Blok M-Kota.

“Sistem baru layanan Transjakarta ini akan diujicobakan mulai Rabu (6/11) besok di koridor 1 Blok M-Kota,” kata Direktur Utama PT Transportasi Jakarta, Agung Wicaksono dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (5/11).

Agung menjelaskan, sistem baru wayfinding ini dalam rangka meningkatkan mutu layanan Transjakarta, menjadi cara baru pula untuk menjelajah transportasi Jakarta.

Menurut dia, dengan adanya sistem layanan baru ini, petugas yang biasanya ada di dalam bus Transjakarta ditiadakan. Petugas dipindahkan ke halte tempat penaikan dan penurunan penumpang.

“Pelanggan tidak perlu khawatir dengan tidak adanya petugas di dalam bus karena lokasi pengawasan yang biasanya di bus kini beralih ke halte,” katanya.

Ia mengatakan pemindahan petugas di halte untuk memastikan pelanggan aman pada saat penaikan dan penurunan dari bus ke halte.

Sebagai gantinya, pihak Transjakarta akan memberikan petugas yang memantau pelanggan dalam bus dengan menyediakan petugas khusus untuk berkeliling memeriksa keadaan pelanggan dan situasi bus.

Ia mengatakan Transjakarta akan menambah informasi yang jelas di dalam bus seperti peta rute beserta gedung-gedung terdekat yang bersinggungan dengan halte sehingga pelanggan dapat memiliki pengalaman tersendiri secara mandiri dalam menjelajah Jakarta dengan membaca wayfinding yang tersedia didalam bus.

Menurut Agus, adanya layanan ini bahwa saat ini Transjakarta sedang mencoba membentuk budaya baru dalam bertransportasi massal secara mandiri.

Pihaknya juga telah berkoordinasi serta melakukan diskusi dengan instansi terkait seperti Dinas Perhubungan, ITDP dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk menerapkan ujicoba ini.

“Transjakarta sudah melakukan diskusi dengan lembaga dan instansi terkait, akan berasa seperti di dalam kereta di Eropa seperti yang saya naiki di Helsinki minggu lalu, bahwa pelanggan sudah memiliki budaya mandiri dalam bertransportasi,” katanya.

Lebih lanjut, Agus mengatakan layanan baru Transjakarta ini dilakukan guna meningkatkan kepedulian antar sesama pelanggan dan pihaknya memberlakukan penempatan petugas dalam bus di seluruh halte koridor 1 (Blok M-Kota) dalam layanannya untuk memasuki tahap Pelayanan 4.0 secara bertahap,

“Ini dia namanya perlahan-lahan menuju Service 4.0. Kita fasilitasi pelanggan untuk mengenali dan mengetahui sendiri perjalanannya. Bukan lagi dipandu prinsip “Malu Bertanya, Sesat di Jalan”, melainkan “Tak Perlu Bertanya, Tinggal Baca Peta Jalan,” katanya.

Ia menambahkan, sistem uji coba layanan baru ini akan dilakukan analisa serta evaluasi sejauh mana efektivitasnya.

“Dan tentunya dalam ujicoba ini akan kita evaluasi hal-hal yang diperlukan serta permasalahan yang timbul guna mempersiapkan tindakan mitigasinya,” kata Agus.

Sebagai informasi wayfinding adalah segala bentuk grafis yang ditujukan untuk menyampaikan informasi atau pesan pada audiens tertentu.

Wayfinding memiliki fungsi untuk menuntun orang agar mencapai tempat tujuan tertentu. Informasi yang diberikan berupa petunjuk arah, peta, dan tanda-tanda khusus yang menunjukkan lokasi tertentu. Dengan adanya informasi tersebut memudahkan orang untuk menemukan tempat yang dituju.

(Arbie Marwan)