Jakarta, aktual.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik keras terhadap Mahkamah Agung setelah lembaga tersebut membatalkan kebijakan tarif global yang menjadi andalan ekonominya.
Dalam pernyataan pada Jumat waktu setempat, Trump secara terbuka mengaku kecewa terhadap putusan pengadilan tertinggi yang dinilainya melampaui batas.
Putusan Mahkamah Agung dengan suara 6-3 menyatakan kebijakan tarif global presiden melampaui kewenangan eksekutif. Dua hakim yang sebelumnya diusulkan Trump sendiri, yakni Amy Coney Barrett dan Neil Gorsuch, ikut bergabung dengan Ketua Mahkamah Agung John Roberts serta tiga hakim liberal dalam keputusan tersebut.
“Saya pikir ini memalukan bagi keluarga mereka,” ujar Trump, merujuk pada Barrett dan Gorsuch.
Tak hanya itu, Trump juga menyerang tiga hakim liberal — Sonia Sotomayor, Elena Kagan, dan Ketanji Brown Jackson — dengan menyebut mereka sebagai “aib bangsa.”
Gaya komunikasi keras Trump bukan hal baru. Mantan pengusaha New York itu dikenal sering menggunakan bahasa tajam dalam diskursus publik, sesuatu yang justru mendapat dukungan dari basis politiknya yang mengusung slogan “Make America Great Again.”
Pada hari yang sama, Trump juga menyebut perusahaan keluarga pembuat mainan edukatif yang menggugat kebijakan tarifnya sebagai “orang-orang yang tidak bermoral.”
Namun, serangan langsung terhadap hakim yang ia tunjuk sendiri dinilai banyak pihak sebagai langkah yang tidak lazim dan mengabaikan independensi cabang yudikatif.
Dekan Fakultas Hukum UC Berkeley, Erwin Chemerinsky, mengatakan dirinya sulit membayangkan presiden lain berbicara tentang Mahkamah Agung dengan cara serupa.
“Trump tampaknya benar-benar berharap hakim yang ia tunjuk maupun kaum konservatif secara umum akan mendukung apa pun yang ia inginkan,” ujarnya.
Trump memiliki rekam jejak panjang berbalik menyerang tokoh yang sebelumnya menjadi sekutu politiknya. Ia pernah mengkritik Ketua Federal Reserve Jerome Powell — yang juga ia nominasikan sendiri — karena kebijakan suku bunga.
Belakangan, ia juga berselisih dengan mantan anggota Kongres Marjorie Taylor Greene terkait penanganan dokumen kasus Jeffrey Epstein.
Meski kerap mengecam lawan politik, Trump dikenal sangat menghargai loyalitas. Ia secara terbuka memuji tiga hakim yang berbeda pendapat dalam kasus tarif tersebut, yakni Brett Kavanaugh, Samuel Alito, dan Clarence Thomas, yang menurutnya menunjukkan “kekuatan dan cinta terhadap negara.”
Trump bahkan menuduh hakim yang menentangnya dipengaruhi pihak asing serta Partai Demokrat, bukan berdasarkan hukum.
Mantan Gubernur North Carolina dari Partai Republik, Pat McCrory, menilai norma politik dalam mengkritik Mahkamah Agung telah berubah sejak Presiden Barack Obama mengkritik putusan pengadilan dalam pidato kenegaraan beberapa tahun lalu.
“Komentar Trump sekarang memperburuk situasi lebih jauh,” katanya, seraya menilai baik Partai Republik maupun Demokrat mulai kurang menghormati institusi tersebut.
Sementara itu, pakar hukum konservatif John Yoo menyebut para pengacara presiden kemungkinan merasa khawatir mendengar kritik keras tersebut, mengingat Trump masih menghadapi sejumlah perkara penting di pengadilan.
Menurut Yoo, akan lebih bijak jika presiden tidak lagi menuduh hakim sebagai alat pengaruh asing.
Trump dan para hakim Mahkamah Agung dijadwalkan bertemu langsung pada Selasa mendatang saat presiden menyampaikan pidato kenegaraan di Capitol. Tradisinya, para hakim hadir sebagai simbol netralitas lembaga yudisial di tengah dinamika politik.
Namun ketika ditanya apakah para hakim masih diundang, Trump menjawab singkat: “Hampir tidak.”
Artikel ini ditulis oleh:
Okta

















