Jakarta, aktual.com – Istighosah menjadi salah satu amalan yang memiliki akar kuat dalam tradisi keislaman di Indonesia. Praktik ini kerap dilakukan sebagai bentuk doa bersama untuk memohon pertolongan Allah SWT dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, baik yang bersifat pribadi, sosial, maupun kebangsaan.
Secara etimologis, istilah istighosah berasal dari kata Arab al-ghauts (الغَوْث) yang berarti pertolongan. Mengutip NU Online, istighosah dimaknai sebagai permohonan pertolongan kepada Allah SWT dalam keadaan darurat, sempit, atau penuh kesulitan, dengan harapan Allah memberikan jalan keluar terbaik sesuai dengan kehendak-Nya.
Berbeda dengan doa yang dapat dibaca secara personal dan spontan, istighosah memiliki susunan bacaan yang relatif baku. Di dalamnya terdapat rangkaian istighfar, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, tahlil, serta doa-doa tertentu yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Susunan ini disusun untuk membangun suasana kekhusyukan dan penghambaan total kepada Allah SWT.
Dalam praktiknya, istighosah sering dilaksanakan secara berjamaah di masjid, pesantren, atau dalam acara-acara tertentu seperti peringatan hari besar Islam, doa menjelang ujian, menghadapi musibah, hingga memohon keselamatan bangsa. Tradisi ini juga menjadi bagian dari amaliah yang banyak dijaga dan dilestarikan oleh kalangan Nahdlatul Ulama (NU).
Konsep istighosah sejatinya memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam. Al-Qur’an mengisahkan bagaimana umat beriman memohon pertolongan kepada Allah dalam situasi genting, dan bagaimana Allah merespons permohonan tersebut. Salah satunya tercantum dalam Surah Al-Anfal ayat 9, ketika Allah mengabulkan permohonan pertolongan kaum muslimin dalam Perang Badar.
Melalui istighosah, umat Islam diajak untuk meneguhkan keyakinan bahwa segala persoalan hidup, seberat apa pun, pada akhirnya hanya dapat diselesaikan dengan pertolongan Allah SWT. Selain sebagai sarana berdoa, istighosah juga menjadi media memperkuat solidaritas umat, memperdalam spiritualitas, serta menumbuhkan sikap tawakal dan harapan kepada rahmat-Nya.
Sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Anfal ayat 9, Allah SWT berfirman:
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
Artinya: “(Ingatlah wahai Muhammad), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
Ayat ini menjelaskan bahwa istighosah adalah bentuk doa memohon pertolongan kepada Allah ketika berada dalam keadaan sulit. Dalam ayat ini diceritakan bagaimana kaum beriman meminta pertolongan dengan penuh keyakinan, lalu Allah langsung mengabulkan doa mereka dengan memberikan bantuan.
Bacaan Istighosah dan Urutannya
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ
Bismillaahir rahmaanir rahiim.
Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Surat Al-Fatihah
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ، الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ، مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ، اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ، اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ، صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ. اٰمين ×٣
Bismillaahir rahmaanir rahiim. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. Ar rahmaanir rahiim. Maaliki yaumiddin. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Ihdinash shiraathal mustaqiim. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghoiril maghdhuubi’alaihim waladhaalliin.
Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Pemlihara seluruh alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukanlah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Oktaviano

















