Jakarta, Aktual.com – Baru-baru ini PT Royal Kreasi Cermerlang (RKC), salah satu perusahaan mainan dalam negeri, sukses meluncurkan produk mainan action figure BIMA-S.

Selain bagian dari langkah bisnis, upaya ini merupakan bentuk dukungan untuk kebangkitan industri mainan dalam negeri yang tengah berjuang melawan pandemi sekaligus langkah untuk mempersiapkan persaingan menghadapi mainan impor yang jumlahnya mulai kembali naik di tahun ini.

CEO RKC Stephen Sutijadi, Senin (21/6) di Jakarta, mengatakan hadirnya BIMA-S di tengah anak-anak serta para penggemar action figure super hero lokal diharapkan mampu mendongkrak angka penjualan serta meningkatkan daya saing produk mainan dalam negeri.

Ia mengaku optimis mainan produksi dalam negeri yang mengangkat intellektual property (IP) Indonesia siap dan mampu bersaing dengan mainan impor. Hingga saat ini, action figure BIMA-S sendiri sudah terpesan hampir 1 juta pieces, ditargetkan akhir tahun bisa menyentuh angka 2 juta pieces.

BIMA-S pertama kali muncul di serial animasi yang ditayangkan stasiun televisi nasional RCTI. Serial besutan MNC Animation ini berhasil mencuri perhatian publik khususnya para penggemar super hero dari kalangan anak-anak hingga generasi millennials.

Pihaknya mengakui bahwa saat ini industri mainan anak-anak di Indonesia masih didominasi merk dan IP dari luar negeri, baik dari sisi produksi maupun distribusi.

“Menjadi tugas kita para pelaku industri kreatif untuk terus berkreasi memunculkan produk dan karakter lokal yang dapat diminati dan dicintai pasar. Maka kami mengajak semua pihak yang berkepentingan untuk sama-sama mendukung produk mainan dalam negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, saat ini industri mainan dalam negeri sedang merangkak naik, setelah sebelumnya, di tahun 2020, mengalami penurunan penjualan yang signifikan hingga sekitar 20%.

Penurunan tersebut disebabkan pengetatan aktivitas dan melemahnya daya beli masyarakat. Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia (APMI), akhir tahun lalu utilisasi industri mainan mulai mengalami peningkatan sekitar 5 persen.

Disisi lain, berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai impor mainan di masa pandemi tahun 2020 mengalami penurunan hingga 21,62 persen. Padahal sejak tahun 2016, nilai impor mainan terus mengalami kenaikan dengan capaian tertinggi di tahun 2019 sebesar lebih dari 400 juta USD.

Pada Januari-Maret 2021, angka impor mainan mulai kembali naik sebesar 16,53 persen apabila dibandingkan tahun sebelumnya di periode yang sama.

Stephen berpendapat, meningkatnya kembali utilisasi industri mainan merupakan kabar baik bagi para pelaku industri. RKC sendiri terus melakukan penelitian dan pengembangan untuk mempersiapkan persaingan yang akan semakin ketat seiring meningkatnya kembali permintaan pasar.

“Action figure BIMA-S yang mengusung IP lokal merupakan salah satu hasil dari inovasi dan pengembangan terbaru kami untuk menyambut pasar industri mainan yang mulai tumbuh dan mempersiapkan persaingan dengan mainan impor yang semakin ketat,” paparnya.

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno yang hadir saat peluncuran BIMA-S, pada Rabu, 16 Maret 2021, di Jakarta, menyambut baik peluncuran mainan BIMA-S yang sebelumnya hanya dikenal sebagai tokoh dalam serial animasi.

Menurutnya, pengembangan dari animasi menjadi action figure sangat sejalan dengan program pengembangan ekosistem ekonomi digital yang tengah dijalankan.

Ia mengatakan, action figure BIMA-S dapat menjadi inspirasi bagi pelaku industri mainan lainnya untuk mulai berani mengembangkan IP asli Indonesia.

Menurut Sandi, industri kreatif Tanah Air memberikan kontribusi yang signifikan bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

“Tahun 2020 ekonomi kreatif kita di urutan dunia sudah nomor 3 kontribusinya terhadap PDB, pertama Amerika dengan Hollywood-nya, kedua Korea Selatan dengan K-Pop dan Indonesia sekarang sudah urutan ke-3 dunia, 1.134 triliun rupiah yang dikontribusikan terhadap PDB kita,” paparnya.

Di kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan, Kementerian Perindustrian mengapresiasi peluncuran produk mainan BIMA-S yang diproduksi sendiri oleh produsen dalam negeri.

Ia berharap mainan BIMA-S menjadi mainan yang laku dipasaran seiring dengan pertumbuhan industri mainan yang mulai tumbuh kembali.

“Kami mengucapkan selamat dengan sudah dilaksanakannya launching BIMA-S yang nanti menjadi mainan yang kami sangat harapkan pasti laku,” ujarnya.

Ia meyakini, kemampuan industri mainan anak di dalam negeri tidak kalah. Melihat ekspor naik terus dari tahun 2017 hingga tahun 2019 dan sedikit menurut pada tahun 2020 karena adanya pandemi.