Jakarta, Aktual.com – Anggota Komisi IV DPR RI Rahmad Handoyo menginginkan pemerintah dapat melakukan kebijakan langkah preventif terhadap adanya dugaan penyebaran virus antraks di Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagaimana tersebar di sejumlah media sosial.

“Kementerian Pertanian melalui Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk segera mengambil langkah preventif agar penyebaran virus antraks dapat diminimalisir,” kata Rahmad Handoyo dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (24/1).

Politisi PDIP itu juga menginginkan Kemnterian Pertanian untuk dapat berkoordinasi dengan erat dengan Kementerian Kesehatan guna membentuk tim penelitian dalam mengkaji mengenai dugaan penyebaran virus antraks tersebut.

Koordinasi antara dua kementerian tersebut, lanjutnya, sangat penting antara lain agar masyarakat juga tidak resah serta bermanfaat pula untuk menyosialisasikan pola hidup sehat serta kewaspadaan terhadap virus antraks kepada warga.

Sebelumnya, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi meminta pemerintah cepat menangani dengan melakukan investigasi yang menyeluruh terhadap dugaan kasus virus antraks yang terjadi di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Pemerintah harus bertindak cepat untuk menginvestigasi dan mengisolasi tempat-tempat yang menjadi lokasi terduga kasus antraks,” kata Tulus Abadi.

Tulus mengatakan bahwa tindakan cepat pemerintah untuk menangani kasus tersebut perlu dilakukan agar virus antraks tidak menyebar dan menjadi kejadian luar biasa untuk binatang ternak dan manusia di luar wilayah yang saat ini menjadi lokasi terduga kasus virus antraks.

Sementara itu, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian memberikan peringatan adanya tiga cara penyebaran antraks, penyakit menular yang umumnya ditularkan melalui hewan, contohnya sapi ternak.

“Antraks ada tiga penyerangannya, melalui kulit karena infeksi luka, melalui pernapasan, dan ketiga lewat pencernaan karena orang itu makan daging (hewan, red.) yang terkena antraks,” kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita di Jakarta, Senin (23/1).

Diarmita menjelaskan musim hujan yang mengurangi intensitas sinar matahari membuat spora antraks dengan bakteri “bacillus anthracis” sebagai penyebab penyakit itu, naik ke permukaan dan memudahkan penyebarannya melalui hewan.

Pencegahan antraks berkaitan dengan beredarnya di jejaring sosial media bahwa adanya beberapa orang terjangkit virus antraks. Kasus tersebut muncul setelah tersebar surat pemberitahuan No.YK.01-02/I/1222/2017 dari RSUP Sardjito kepada Dinas Kesehatan Sleman, jika korban HA kelahiran 18 Maret 2008 tersebut meninggal akibat virus antraks. Namun, Dinas Kesehatan Sleman maupun RSUP Sardjito membantah isi surat tersebut.

Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta meminta masyarakat setempat tidak takut mengonsumsi daging sapi seiring dengan kabar adanya indikasi sapi terserang antraks di Desa Purwosari, Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo.

“Dengan kabar itu jangan lantas takut mengonsumsi daging karena baru indikasi dan kami sudah memperketat pengawasan kesehatan sapi,” kata Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian (Distan) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sutarno di Yogyakarta, Selasa (24/1).

Sapi di DIY yang sebagian besar dipotong di rumah pemotongan hewan (RPH), menurut dia, dagingnya aman dari berbagai penyakit karena telah melalui pemeriksaan disertai surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dari dokter hewan sebelum disembelih

ANT

(Antara)

(Arbie Marwan)