Bendera Thailand (Foto: Istimewa)
Bendera Thailand (Foto: Istimewa)

Bangkok, Aktual.com – Wakil Perdana Menteri (PM) sekaligus Menteri Perdagangan Thailand Jurin Laksanavisit mengatakan negaranya berharap untuk lebih memperluas ekspor ke China dengan berlandaskan kerja sama perdagangan bilateral yang solid.

“Jika kita melihat kembali tren 10 tahun antara Thailand dan China, saat kita melihat nilai perdagangannya, nilainya telah naik,” kata Jurin kepada Xinhua dalam sebuah wawancara, mengatakan bahwa “selain meningkatkan nilai perdagangan bilateral antara kedua negara, Thailand juga berharap dapat mengurangi defisit perdagangan.”

Jurin mengatakan Thailand dan China telah lama memiliki hubungan yang kuat dan menguntungkan, dan kedua negara berbagi kemitraan yang luas dalam hubungan diplomatik dan ekonomi.

“China selalu sangat penting (bagi Thailand), baik dari sektor pariwisata maupun ekspor,” katanya.

Pejabat senior itu menyatakan bahwa Thailand dan China memiliki hubungan perdagangan yang sangat kuat dan beragam jenis kerja sama, termasuk sejumlah perjanjian perdagangan bilateral, Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) ASEAN-China, dan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP).

“Kami berharap mendapat keuntungan besar dari RCEP,” katanya, mengingat RCEP, yang merupakan kesepakatan perdagangan bebas terbesar di dunia, akan menguntungkan Thailand dalam hal akses pasar yang lebih besar serta pengurangan tarif.

RCEP telah mulai berlaku pada 1 Januari, yang memungkinkan “Thailand dan negara-negara anggota lainnya, termasuk China, untuk berbagi kemakmuran,” katanya.

China masih menjadi mitra perdagangan terbesar Thailand selama sembilan tahun berturut-turut. Volume perdagangan bilateral melonjak 33 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 131,18 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp14.357) pada 2021, menurut data dari Administrasi Umum Kepabeanan China.

Wakil PM Thailand itu menyambut baik berbagai upaya China untuk semakin membuka perekonomiannya dan menjadi tuan rumah Pameran Impor Internasional China (China International Import Expo/CIIE).

“Saya sangat terkesan dengan CIIE karena ini adalah kebijakan yang bermanfaat bagi banyak negara, termasuk Thailand.”

“Akibat sektor pariwisata Thailand yang terdampak parah oleh pandemi COVID-19, kami hanya memiliki ekspor sebagai pendorong ekonomi utama,” kata Jurin, seraya menambahkan bahwa pihak kementerian mematok target untuk meningkatkan ekspor negara itu sebesar 4 persen tahun ini.

Pemerintah Thailand berharap dapat bekerja sama dengan pemerintah China untuk meningkatkan fasilitasi ekspor, seperti pos pemeriksaan dan perizinan.

“Kami berharap akan semakin banyak saluran untuk (mereka) menerima produk-produk Thailand, terutama untuk makanan dan buah-buahan kami yang sangat diminati oleh konsumen China,” imbuhnya.

Dia juga mengatakan Thailand berharap melihat semakin banyak produk ekspor diangkut ke China melalui Jalur Kereta China-Laos, dengan buah-buahan, sayuran, dan produk-produk lainnya menjadi barang yang diprioritaskan.

Pada Februari lalu, jalur kereta lintas perbatasan itu, yang membentang lebih dari 1.000 km dan menghubungkan Kota Kunming di China barat daya ke Vientiane, ibu kota Laos, mengangkut pengiriman pertama beras Thailand seberat 500 ton ke Kota Chongqing di China barat daya.

Thailand siap menggunakan jalur kereta itu untuk mengangkut buah-buahan ke China setelah fasilitas sanitasi dan fitosanitasi di Pelabuhan Mohan di Provinsi Yunnan, China barat daya, rampung dibangun pada pertengahan tahun.

Diproduksi oleh Xinhua Global Service

(Antara)

(A. Hilmi)