Jakarta, Aktual.co — Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan, keselamatan berkendaraan berkaitan dengan budaya tertib lalu lintas masyarakat. Untuk mendukung program keselamatan berkendara di kota yang ia pimpin, pihaknya sedang fokus dalam pembenahan masalah transportasi. Mulai dari pembangunan infrastruktur hingga membenahi transportasi publik.
“Ke depan kita akan mengoptimalkan penggunaan transpakuan, mengkonversi angkot menjadi transpakuan, mengurangi trayek angkot serta menata saran transportasi seperti di terminal dan stasiun,” kata Bima saat mengikuti kampanye keselamatan berkendaraan yang diselenggarakan oleh Satuan Lalu Lintas Polres Bogor Kota di GOR Padjajaran, Sabtu (8/11).
Dalam kampanye keselamatan berkendaraan para pelajar dan anggota klub sepeda motor diberikan pengarah tentang teori keselamatan berkendaraan dari mentor Safety Riding Academi.
Pengarahan secara teori diberikan di dalam ruangan, berupa atribut yang harus digunakan selama berkendaraan seperti helm, sepatu, jaket, dan perlengkapan di motor yang sangat penting untuk diperhatikan sebagai awal memulai keselamatan berkendaraan.
Setelah diberikan pengawah secara teori, para pelajar diberikan pratik di lapangan dimana para mentor memperlihatkan teknik-teknik berkendaraan yang aman.
Para pelajar diberi tahu sebelum memulai berkendaraan terlebih dahulu menggunakan semua atribut keselamatan seperti helm, lalu sebelum memulai perjalanan, hendaknya diawali dengan melihat ke kiri dan kanan.
“Tujuannya agar kita bisa melihat situasi apakah jalan yang kita lalu benar-benar aman, sekaligus sebagai pemberitahuan kepada pengendara lain bahwa kita akan berjalan,” kata salah satu mentor.
Dalam melakukan pengereman juga diajarkan, bahwa menggunakan kopling dan rem secara benar juga dapat membantu menjaga kondisi spare part sepeda motor agar tetap stabil. Menggunakan kopleng dan rem secara asal-asalan akan mempercepat kerusakan pada motor.
Mentor juga mengajarkan tentang fungsi rem tangan (depan) dan rem kaki (belakang) berbeda, menggunakan kedua rem diperlukan ketika berhenti mendadak dalam kecepatan tinggi, untuk sehari-hari seharusnya dikurangai menggunakan rem depan karena akan membuat pengendara mental.
Selain itu juga, pelajar diajarkan, posisi tangan saat mengeram jangan menggunakan jari tengah. Karena jika saat berkendaraan posisi jari tengah berada di rem artinya pengendara mengerem sambil memacu gas.
“Berbeda kalau posisi tangan ketika mengerem menggunakan seluruh jari, artinya kita mengurangi kecepatan dan melakukan rem,” kata mentor.
Chindy Dwi Liguna (16) siswi kelas X SMK YKTB 2 Kota Bogor mengaku sudah mengendarai sepeda motor sejak sekolah dasar.
Sejak duduk di bangku SMP hingga SMA, Chindy telah diperbolehkan oleh orang tuanya untuk membawa motor ke sekolah.
“Karena rumah saya jauh di Ciomas, tidak ada yang ngantar sekolah jadi disuruh bawa motor sendiri,” kata Chindy.
Menurut Chindy setelah mengikuti kampanye keselamatan berkendaraan, ia jadi mengetahui bagaimana agar selama berlalu lintas dengan tertib peraturan dan mengenakan atribut keselamatan.
“Jadi tahu kita harus menggunakan helm ber SNI agar terlindung kepalanya saat terjadi kecelakaan. Dan kalau di jalan raya harus mematuhi rambu-rambu lalu lintas, tidak boleh parkir dan berhenti sembarangan tempat biar tidak menimbulkan kemacetan,” kata Chindy yang hadir bersama sekitar 30 orang teman sekolahnya.

()