Keistimewaan malam tersebut dijelaskan dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Surah Al-Qadr ayat 1–3:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
Meski memiliki keutamaan yang sangat besar, kapan tepatnya malam Lailatul Qadar datang tidak pernah diketahui secara pasti. Mengutip NU Online, Allah SWT merahasiakan waktu kedatangannya agar umat Islam terus memperbanyak ibadah sepanjang akhir Ramadan.
Karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil.
Anjuran Rasulullah Mencari Lailatul Qadar
Dalam sejumlah riwayat, Nabi Muhammad mendorong umatnya untuk memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Hal tersebut juga dijelaskan dalam kitab At-Tanbih, yang menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar dianjurkan untuk dicari pada setiap malam Ramadan, terutama pada sepuluh malam terakhir dan malam ganjil.
Malam yang paling sering diharapkan terjadi Lailatul Qadar adalah malam ke-21 dan ke-23 Ramadan. Pada malam tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, salah satunya:
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.
Artinya: “Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.”
Riwayat dari Aisyah juga menggambarkan kesungguhan Rasulullah dalam menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan.
“Ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah SAW lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya,” (HR Sahih al-Bukhari).
Apakah Wanita Haid Bisa Mendapat Lailatul Qadar?
Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana dengan perempuan yang sedang haid di akhir Ramadan. Apakah mereka tetap bisa mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadar?
Menurut penjelasan dalam literatur yang dikutip NU Online, perempuan yang sedang haid tetap memiliki kesempatan memperoleh pahala dari malam penuh kemuliaan tersebut.
Dalam karya ulama Syekh Ahmad bin Salamah Al-Qalyubi, disebutkan bahwa perempuan yang sedang haid tetap mendapatkan pahala ketika berniat menaati syariat dengan meninggalkan ibadah yang memang dilarang baginya.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh pakar hadis Ad-Dhahak. Ia menjelaskan bahwa perempuan haid tetap berpeluang mendapatkan bagian dari Lailatul Qadar.
“Setiap orang yang diterima amalnya, maka Allah SWT akan memberikan bagiannya dari Lailatul Qadar,” sebagaimana dikutip dalam kitab Lathaiful Ma’arif karya Ibn Rajab al-Hanbali.
Amalan yang Bisa Dilakukan Wanita Haid
Meski tidak diperbolehkan melaksanakan salat, perempuan yang sedang haid tetap dapat menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan berbagai ibadah lain.
Di antaranya memperbanyak dzikir, membaca salawat, beristighfar, serta memanjatkan doa kepada Allah SWT.
Doa yang dianjurkan untuk dibaca pada malam-malam ganjil Ramadan tetap sama, yakni:
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.
Dengan memperbanyak dzikir, doa, dan amal kebaikan, setiap Muslim—termasuk perempuan yang sedang haid—tetap memiliki kesempatan meraih keberkahan malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Okt
















