Jakarta, Aktual.com – Kurangnya zat besi berdampak besar kepada tumbuh kembang anak baik dalam jangka pendek atau jangka panjang.

Mirisnya, satu dari tiga anak Indonesia di bawah usia lima tahun mengalami anemia (Riskesdas 2018). Sebanyak 50 persen penyakit anemia diakibatkan karena kekurangan zat besi (Grantham-McGregor S, 2010).

Kekurangan zat besi terjadi saat zat besi dalam tubuh lebih sedikit dari kebutuhan harian. Fungsi utama zat besi adalah mengantarkan oksigen dari paru-paru untuk digunakan oleh bagian-bagian dalam tubuh anak.

Jika tidak ada zat besi, organ-organ tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup dan mengakibatkan gangguan tumbuh kembang anak baik secara kognitif (kecerdasan), fisik, dan sosial.

“Zat besi memiliki peran penting pada tubuh anak, terutama untuk mendukung tumbuh kembangnya. Asupan zat besi yang tidak adekuat dapat menyebabkan menurunnya kecerdasan, fungsi otak, dan fungsi motorik anak,” tutur Dokter Spesialis Gizi Klinik dan Ketua Departemen Ilmu Gizi Klinik FKUI, dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi, SpGK dalam talkshow bertema ‘Kekurangan Zat Besi sebagai Isu Kesehatan Nasional di Indonesia dan Dampaknya terhadap Kemajuan Anak Generasi Maju’ Rabu (22/11) yang dilansir dari Warta Kota.

Untuk jangka panjang, performa anak di sekolah akan menurun, menjadi tidak tanggap terhadap lingkungan, dan perubahan perilaku.

Penyebab utama kekurangan zat besi adalah kurang mengonsumsi asupan makanan kaya zat besi terutama dari sumber hewani seperti daging merah, hati, ikan, dan ayam.

Masalah anemia tidak hanya berasal dari makanan, tetapi juga bisa dari genetik. Ibu yang memiliki riwayat penyakit anemia dapat membawa genetik anemia kepada anaknya.

Dari data Riskesdas 2018, ibu hamil yang mengalami anemia sebanyak 48,9 persen. Jumlah ini naik dibanding data ibu hamil terjangkit anemia tahun 2013 yang masih di angka 13,1 persen.

Anemia pada Anak

Dari usia 3 hingga 6 bulan adalah usia kritis untuk terjangkit anemia. Ini dikarenakan kebutuhan zat gizi dan gizi lainnya meningkat dengan terbentuknya saraf-saraf otak lebih banyak dan tahap pertumbuhan yang cepat.

Perlu diketahui, perkembangan otak mencapai 80 persen dari dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Jika anemia terjadi di tahap ini, perkembangan otak akan terganggu dan memicu kerusakan otak secara permanen.

Saat terjadi kerusakan otak akibat anemia, sekalipun bisa diintervensi, kerusakan pada otak tidak bisa disembuhkan.

(Shavna Dewati Setiawan | Warta Kota)

(Aktual Academy)