Jakarta, Aktual.co — Direktur Senior Bidang Lingkungan dan Sumber Daya Alam Global Practice The World Bank, Paula Caballero mengatakan penerapan manajemen pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan dengan memperhatikan aspek ketahanan dapat meningkatkan keuntungan ekonomi hingga sepuluh kali lipat, dibandingkan jika hanya memperhatikan aspek pertumbuhan tanpa memikirkan keberlanjutannya.

“Kita harus melihat dasar dan penyebab dari kerusakan suatu lingkungan, kerugian ekonomi akibat kerusakan tanah, sumbernya bisa berbeda, misalnya dari perubahan iklim. Oleh karena itu, kita harus memiliki manajemen yang baik terhadap sumber daya alam tanah dan hutan,” ujar Paula dalam keterangan resmi BKPM, Rabu (29/4).

Lebih lanjut dikatakan dia, diperlukan adanya kerja sama yang baik dengan pemerintah. Menurutnya, World Bank siap bekerja sama dengan pemerintah untuk membuat sumber daya alam menjadi titik pusat bagi ekonomi nasional di Indonesia, dengan memperhatikan koherensi antara daerah dan pusat, serta koherensi yang lebih besar antara wilayah hutan dan non hutan.

“Presiden Jokowi membahas bahwa Indonesia memiliki warisan historis dan potensi atas potensi maritim. Ini sangat penting bagi ketahanan pangan Indonesia ke depan. Kebanyakan manajemen
perikanan yang dieksplotasi dengan sangat berlebihan di Indonesia dan banyak yang dikorbankan, itu yang mengakibatkan dampak buruk dan kerugian,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian, Saleh Husin menyatakan pada pertemuan G20 tahun 2009 lalu, Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar
26 persen dengan target akan dicapai pada 2020. Komitmen ini ditindaklanjuti dengan Perpres No.161 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Penurunan Gas Rumah Kaca.

Menurut Saleh, pada tahun 2015 diperkirakan dunia membutuhkan tambahan 55 persen kebutuhan air, 60 persen tambahan sumber makanan, dan 70 persen energi. Di masa mendatang, diperkirakan akan ada peningkatan kebutuhan energi tiga kali lipat dan 60 persen ekosistem akan rusak tanpa bisa diperbarui.

“Salah satu solusinya adalah penerapatan industri hijau untuk mengatasi degradasi lingkungan. Misalnya dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan, atau dengan prinsip 4R, reduce, recycle, recovery, dan reuse,” pungkas Saleh.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka