Drs Ulumuddin M.SI menyampaikan materi pada workshop dukungan psikososial tokoh agama Islam untuk pengurangan resiko bencana, di Palu, Sabtu. Foto : ANTARA
Drs Ulumuddin M.SI menyampaikan materi pada workshop dukungan psikososial tokoh agama Islam untuk pengurangan resiko bencana, di Palu, Sabtu. Foto : ANTARA

Palu, aktual.com – Lembaga Kemanusiaan Wahana Visi Indonesia (WVI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar workshop dukungan psikososial tokoh Agama Islam untuk pengurangan resiko bencana (PRB), berlangsung di Palu, 1 hingga 2 Maret 2020.

“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tokoh agama Islam dalam memberikan psikososial kepada keluarga atau masyarakat untuk pengurangan resiko bencana,” ucap General Manager WVI Zona Sulawesi dan Maluku Utara, Radika Pinto di Palu, Minggu [01/3].

Bagi WVI, tambah Radika peran tokoh agama Islam sangat strategis untuk menyampaikan pesan-pesan yang membangkitkan semangat dan harapan masyarakat/penyintas bencana.

Karena saat situasi darurat, secara sikologis penyintas bencana dapat mengalami depresi dan stres serta karena kehilangan harta benda, tempat tinggal, pekerjaan. Termasuk penyintas bencana mengalami kehilangan orang yang mereka sayangi dan kasihi.

“Karena itu mereka penyintas bencana pasti akan mengalami trauma,” sebut Radika.

Atas kondisi itu, WVI memandang, lanjutnya perlu dilakukan langkah-langkah pemulihan mental penyintas yang salah satunya dibutuhkan penguatan dan peran tokoh agama Islam.

“Indonesia sebagai negara yang berketuhanan, masyarakatnya beragama, maka pendekatan berbasis agama akan efektif untuk membangkitkan kembali harapan penyintas bencana,” ungkapnya.

Hal ini penting dilakukan, karena berkaitan dengan pengurangan resiko bencana utamanya dalam konteks pencegahan, maka diperlukan penguatan dan peningkatan kapasitas peran tokoh agama Islam.

Berkaitan dengan kegiatan tersebut, Wakil Ketua Umum MUI Kota Palu, Sagir M Amin mengemukakan peningkatan kapasitas tokoh agama dalam memberikan dukungan psikososial pengurangan resiko bencana, merupakan salah satu bentuk komitmen kemanusiaan bersama dengan WVI.

“Ini untuk umat, mencerdasarkan umat juga menjadi tanggung jawab tokoh agama,” katanya.

Sementara Ketua MUI Kota Palu, Prof Dr KH Zainal Abidin MAg menyebut MUI Palu tidak pernah membatasi diri untuk bekerjasama dengan lembaga apapun yang diakui oleh negara/pemerintah.

“Apa yang dilakukan oleh MUI bersama dengan WVI adalah tindakan kemanusiaan, tanpa melihat latar belakang apapun,” tegas dia.

Ia menguraikan, MUI bersama WVI juga pernah melaksanakan kegiatan mengenai perlindungan terhadap perempuan dan anak dalam konteks agama.

“Ini bukan kegiatan yang pertama yang kami lakukan bersama WVI, sebelum kegiatan berbasis gender dalam rangka pemenuhan hak-hak perempuan dan anak, kaum rentan, dalam perspektif agama juga telah kami lakukan,” terangnya.

Dalam workshop tersebut, salah satu narasumber/fasilitator kegiatan Ulumuddin mengutarakan bahwa tokoh agama perlu memperhatikan empat prinsip panduan dalam penanggulangan pascabencana yakni, kemanusiaan menjadi prioritas utama, prioritas bantuan menjadi kebutuhan semata-mata penyintas, tindakan dan sikap terhadap sesama manusia, serta pentingnya melakukan upaya penyadaran dan pembelaan.

WVI dan MUI Palu menghadirkan 45 yang berasal dari Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara dan Sulawesi Tengah. Workshop tersebut.

(Eko Priyanto)