Ditulis oleh:

Mukhriz Sidqy

Dewan Pengawas Syariah LAZ Ar-Raudhah

Banyak kepala mendefinisikan kemerdekaan, ada yang mendefinisikannya hanya dalam konteks penjajahan, ada pula yang mengartikannya sebagai kebebasan mutlak tanpa aturan. Merdeka yang berasal dari bahasa sansekerta maharddhika secara terminologis berarti kaya, sejahtera dan kuat. Dalam bahasa Melayu dan Indonesia bermakna bebas atau tidak bergantung/independen. Di kepulauan Nusantara, istilah ini juga berarti budak yang dibebaskan. Namun arti terakhir ini dianggap tidak tepat, selain karena makna ini dipopulerkan oleh Portugis dan Belanda (mardijker), makna ini juga dianggap merendahkan.

Uniknya, meski makna terakhir dianggap tidak tepat dan merendahkan, namun dalam konteks opini ke-Islam-an justru manusia ini diciptakan untuk menjadi hamba dan menghamba, tapi bukan untuk menghamba kepada manusia, atau bahkan dunia, melainkan menghamba kepada Tuhan semata, Allah swt.

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. QS. Adz-Dzariyat : 56

Dalam ayat lain dikatakan,

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (QS. Al-Bayyinah : 5)

Dalam kosakata Arab, hamba biasa disebut dengan ‘Abd, ‘Ibadah berarti penghambaan. Dalam kaitannya dengan Mardijker yang dianggap merendahkan karena berarti mantan budak (hamba sahaya), dengan istilah ‘Abd atau ‘Ibadah justru manusia itu selamanya adalah hamba dan diciptakan hanya untuk menghamba. Hanya saja, penghambaan manusia dalam konteks opini ke-Islam-an adalah untuk memerdekakan manusia dari selain Allah swt.

Manusia secara fitrah diciptakan untuk menjadi hamba, maka jika manusia tidak menghamba kepada Tuhan mestilah fitrahnya itu membawanya menjadi hamba selain Tuhan. Saat manusia menghamba kepada Tuhan, ia merdeka dari segala sesuatu yang disekutukan dengan Tuhan. Sebaliknya, saat ia menyatakan diri merdeka dari aturan Tuhan, saat itulah ia menjadi budah atau hamba dari hawa nafsunya sendiri.

Maka sholat, puasa, zakat memanglah sebuah kekangan bagi manusia, dan tidak ada pilihan kecuali hanya mematuhinya. Namun ketahuilah hanya dengan mematuhi peraturan Tuhanlah jiwa menjadi merdeka. Dari sinilah, kemerdekaan sejati adalah menjadi hamba yang sebenar-benarnya hamba. Ya, hamba Allah Swt.

(A. Hilmi)