Jakarta, aktual.com – Kitab fenomenal karangan Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir al-Jailani yaitu Tafsir al-Jailani telah diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia.

Kitab ini menjadi kitab yang sangat indah karena di dalamnya berbeda dengan kitab-kitab tafsir yang beredar seperti biasanya.

Selain itu, kitab ini juga dicetak menggunakan kertas Qur’an Paper.

Berikut 5 fakta kitab terjemah Tafsir al-Jailani:

Pertama, kitab tafsir yang menghidupkan ruh

Kitab Tafsir Al-Jailani sejatinya adalah karya Sayyiduna Syeikh Abdul Qadir al-Jailani al-Hasani al-Husaini QS. Dalam kitab ini, Sayyiduna Syeikh Abdul Qadir al-Jailani tidak sekadar menafsirkan Al-Qur’an dengan pola tafsir yang semata-mata mengandalkan ilmu dan pemahaman seperti yang lazim terdapat dalam pelbagai kitab tafsir lain.

Tafsir ini lebih banyak bertumpu pada pemaparan berbagai sugesti yang menghidupkan ruh serta dapat menumbuhkan ketakwaan di satu sisi, dan di sisi lain, mampu mengikat murid dengan gurunya, sehingga guru dapat terus meningkatkan kualitas murid hingga mencapai derajat setinggi mungkin.

Kedua, diperoleh melalui penelitian yang panjang

Kitab tersebut ditemukan oleh Maulana Syeikh Prof. DR. Muhammad Fadhil al-Jailani al-Hasani hafizhahullah dalam perjalanan panjang beliau ke berbagai perpustakaan didunia untuk mencari dan meneliti berbagai manuskrip-manuskrip karya Sayyiduna Syeikh Abdul Qadir al-Jailani QS.

Ketiga, pertama kali diterjemahkan di Indonesia

Setelah penantian 15 tahun, akhirnya Kitab Tafsir Al-Jailani telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia secara lengkap 30 juz atas prakarsa Zawiyah Arraudhah Markaz Al-Jailani Asia Tenggara yaitu satu-satunya organisasi yang diamanahi untuk menyebarluaskan dakwah Maulana Syeikh Prof. DR. Muhammad Fadhil al-Jailani al-Hasani di seluruh Asia Tenggara.

Keempat, total halaman yang begitu banyak

Terjemah kitab Tafsir Al-Jailani utuh 30 juz dalam bahasa Indonesia ini terdiri dari 6 jilid tebal bersampul Hard Cover dengan total jumlah halaman mencapai 3,348 halaman dan berat mencapai 6 kg.

Kelima, dicetak menggunakan kertas jenis Qur’an paper (QPP)

Terjemah kitab Tafsir Al-Jailani ini dicetak pada kertas jenis Qur’an paper (QPP) yang dikembangkan mengedepankan aspek halalan toyyiban atau produk yang halal dan berkualitas baik. Sebuah produk halal terjadi lewat rangkaian proses panjang. Halal bahan baku yang dipakai, halal proses pembuatan dan peralatan yang digunakan serta halal pula proses penyimpanannya.

Selain dari 5 fakta di atas, Kitab Tafsir al-Jilani ini telah ada sejak lebih dari 800-an tahun yang lalu namun dengan kehendak-Nya untuk pertama kalinya pula di cetak dalam bahasa Arab yang telah dicetak kurang lebih 15 tahun lalu dan diterbitkan dalam bahasa Arab oleh Markaz Al-Jailani Istanbul, Turki.

Dengan segenap usaha dan jerih payah yang berliku, ikhtiar sembari berdoa kemudian tawakal, akhirnya atas berkah Rahmah dan Inayah Yang Maha Cinta, ditahun 2022 dan tepat di bulannya Rasulullah yaitu Sya’ban Al-Mukarram Markaz Al-Jailani dapat mewujudkan versi terjemahan yang sangat membantu pecinta Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani di Indonesia membaca Tafsirnya.

Cicit Quthbur Robbaniy Sayyidi Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang ke-24, beliau adalah Al-Allâmah Ad-Dâ’i ilallah Khodimu Sulthonul Auliyâ’ Prof. Dr. Syarif Muhammad Fadhil Al-Jailani adalah sosok dibalik penerbitan Tafsir Al-Jailani versi Arab dan kemudian atas mandat beliau, Murid dan Putera Maknawi beliau yaitu Syaikh KH. Muhammad Danial Nafis menerima estafet Markaz Al-Jailani Asia Tenggara untuk menerjemahkan dalam versi Indonesia dan mandat dapat ditunaikan dalam waktu cukup singkat setahunan dengan terbitnya Terjemah ini setelah 15 tahunan di tunggu-tunggu para pecintanya.

Fadhilatus Syaikh Fadhil Al-Jailani mengatakan bahwa kitab tafsir ini tidak ada bandingan dan penyama hingga saat ini.

“Tiada bandingan dan penyama di atas muka bumi ini,” ungkapnya.

ini merupakan tafsir Isyari dari seorang Sulthonul Auliya’ yg mengandung hal-hal baru dan juga penting yg tidak ditemukan pada tafsir-tafsir lain, contohnya dalam Al-Fâtihah pada lafadz,

غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ

“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai,” (Qs Al-Fatihah)

yang biasa ditafsiri oleh para ulama dengan “kaum Yahudi” juga lafadz,

وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

“dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat,” (Qs. Al-fatihah).

yang diartikan “kaum Nashrani” pada mayoritas tafsir lain.

Namun, dalam Tafsir Al-Jailani ini makna yang dijelaskan Sulthonul Auliyâ’ adalah tidak hanya terbatas “Yahudi dan Nasrani” saja tapi semua penyembah berhala dan semua yang disembah selain Allah Swt.

Jadilah bagian pemilik dari Tafsir fenomenal ini, Selain sebagai penambah wawasan khazanah keislaman juga sebagai bentuk “Dalilul Mahabbah” pada Muallifnya yang seorang Sulthonul Auliya’ Samudera rahasia ilmu ilahi, semoga kita di golongkan sebagai pecinta Sholihin dan menjadi bagian dari Sholihin serta mendapat keberkahan di dunia dan akhirat.

Wallahu A’lam

(Rizky Zulkarnain)