Jakarta, Aktual.co — Tindakan paling akhir Pemerintah Kenya untuk membekukan rekening perusahaan pengiriman uang Somalia karena dicurigai mendanai pelaku teror telah memukul keluarga dan pengusaha yang bertransaksi antara Mogadishu dan Nairobi setiap hari.

Tiga bulan sebelumnya, Bank Amerika –Merchant Bank of California– menghentikan layanan pengiriman uang ke Afrika Timur, sehingga mempengaruhi warga Somalia yang mengandalkan layanan tersebut untuk menerima uang dari kerabat mereka di Amerika Serikat.

Fatima Ali, seorang wanita pengusaha di pasar terkenal Bakara di Mogadishu, pada Jumat memberitahu Xinhua –yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu sore– usahanya mulai goyah sebab ia tak bisa memperoleh pasokan dari Nairobi.

“Saya biasa mengirim uang setidaknya satu kali sehari ke Nairobi melalui Dahabshil dan Juba Express dan mitra usaha saya di Nairobi mengirim barang seketika tapi itu tak ada lagi,” kata Fatima.

Dahabshil dan Juba Express adalah perusahaan pengirman uang yang beroperasi di Somalia dan Kenya dan bagian dari perusahaan yang ditutup oleh Pemerintah Kenya.

“Usaha saya tak memiliki hubungan dengan pelaku teror dan begitu juga dengan mitra saya di Nairobi. Saya tak mengerti mengapa kami harus dihukum dengan cara ini. Kami meminta Kenya membuka kembali layanan ini sehingga kami dapat menunjang keluarga kami dan membangun negara kami,” kata Fatima.

Ali Nor, seorang koresponden buat satu kantor berita asing, mengatakan penutupan itu akan sangat mempengaruhi dia sebab ia memperoleh pembayaran melalui hawala (layanan pengiriman uang).

“Hawala ini telah sangat membantu buat saya dan atasan saya, sebab saya bisa menerima bayaran saya tepat pada waktunya, tapi sekarang semuanya ditutup, saya tidak tahu bagaimana saya bisa memperoleh bayaran,” kata Ali Nor.

Farah Moalim, ayah lima anak, khawatir mengenai pendidikan anaknya di Nairobi. “Saya menggunakan hawala untuk uang bayaran sekolah dan uang saku untuk putra saya yang belajar di Nairobi,” kata Moalim kepada Xinhua.

“Pengumuman itu membuat saya terkejut sebab saya khawatir pendidikan putra saya bisa terpengaruh karena ia tak bisa mendapat uang bayaran sekolah dari sini,” ia menambahkan.

Dengan perkiraan 1,3 miliar dolar AS mengalir ke Somalia setiap tahun dari Diaspora melalui hawala, Somalia dapat makin terdesak ke tepi jurang oleh tindakan untuk menutup perusahaan pengiriman uang tersebut, yang telah menjadi sarana terpenting dalam memudahkan pengiriman uang.

Lembaga kemanusiaan internasional yang beroperasi di Soamlai telah memperingatkan bahwa tindakan oleh Kenya itu untuk menutup hawala dapat sangat mempengaruhi kehidupan di Somalia, yang ketergantungan mereka atas pengiriman uang telah menjadi alat dalam membangun negeri tersebut.

Mereka telah menyerukan dilakukannya penelitian kembali kebijakan itu dan memutuskannya berdasarkan kasus-per-kasus dan bukan larangan secara umum.

“Meskipun ada kebutuhan untuk mengatur sektor pengiriman uang guna mencegah kelompok teror menerima uang, pemerintah juga mesti meneliti setiap lembaga secara individu dan bukan larangan menyeluruh,” kata Manager Kebijakan dan Kegiatan Oxfam di Somalia Ed Pomfret.

Pemerintah Kenya pada Jumat (10/4) menginstruksikan 86 orang dan lembaga yang rekening mereka dibekukan karena dicurigai mendanai pelaku teror untuk hadir di pusat kontra-teror pekan depan untuk pemeriksaan.

Artikel ini ditulis oleh: