Jakarta, Aktual.co — Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina (eSPeKaPe) angkat bicara terkait tudingan mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) Faisal Basri yang menyebut Pertamina kerap melakukan kecurangan dalam mendistribusikan elpiji 3 Kg.
Untuk diketahui, Faisal menyampaikan tudingan tersebut saat menjadi pembicara di sebuah diskusi soal RUU Migas di Kementerian ESDM pada 26 Mei lalu. Dimana salah satu slide presentasinya diberi judul Keganjilan Bisnis LPG 3 Kg. Diskusi itu diawali dengan keanehan bahwa biaya pengisian alias filing fee untuk SPBE yang tidak pernah berubah.
Tudingan lain, ada oknum dari Pertamina dan seluruh pelaku bisnis gas dalam tabung hijau itu yang membagi-bagikan rente dalam bentuk sisa elpiji. Caranya, memalsukan gas yang diisikan kembali ke tabung kosong. Temuan Faisal, setiap tabung yang perlu diisi ulang sebenarnya tidak 100 persen kosong, terdapat sisa 5–10 persen gas. Kendati demikian Faisal tidak membeberkan darimana ia memperoleh data tersebut.
“Padahal Pertamina tidak pernah melarang agen penjual elpiji 3 kilo menimbang ulang saat pengambilan tabung di SPPBE (Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji). Bahkan Pertamina siap memfasilitasi disain layout SPPBE dengan opsi penempatan jembatan timbang,” kata Ketua Umum eSPeKaPe Binsar Effendi di Jakarta, Senin (1/6).
Menurutnya, tidak mungkin ada kecurangan yang dilakukan Pertamina lantaran kinerja programnya selalu dilakukan audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan juga oleh internal audit di Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM. Hal ini demi memastikan tidak ada oknum Pertamina yang mengambil keuntungan secara pribadi, sehingga kecil kemungkinan jika Pertamina berani melakukan pengurangan isi gas elpiji bersubsidi tersebut.
“Dia ini (Faisal Basri), ikut memicu kegaduhan politik. Dan kami, pensiunan yang merintis, membangun dan membesarkan Pertamina sudah jelas harus memberi perlawanan jika Faisal Basri terus saja menyudutkan nama baik Pertamina. Jadi, janganlah sesuka-sukanya Faisal berceloteh,” tandasnya.
Sebelumnya, Ketua II himpunan wasta nasional minyak dan gas (Hiswana Migas) M. Ismet telah membantah tudingan miring tersebut.
“Jadi yang dikatakan pak Faisal Basri bahwa ditabung itu ada sisa 5-10 persen dari berat, saya sendiri heran itu angka dari mana. Lalu kita juga dikatakan bahwa para pelaku bisnis LPG adalah termasuk pemburu rente, jadi dikatakan bahwa dari hasil 5-10 persen itu dibagi-bagi oleh Pertamina dan pelaku SPBE, ibaratnya dirampok sama-sama. Itu salah besar,” ujar Ismet.
Ia menjelaskan, pada saat di SPBE semua tabung LPG ditimbang dan diisi sesuai aturan yang ditentukan. Selain itu pihaknya juga harus memberikan laporan rutin kepada Pertamina mengenai berapa elpiji yang diterima dari depot dan berapa elpiji yang disalurkan.
“Itu setiap depot melakukan, dan nanti ada lagi laporan harian, sepuluh harian, dan terakhir stock opname. Jadi saya kira sangat sulit celah kita melakukan kecurangan. Dan peralatan kami, di SPBE itu selalu sesuai aturan dan kita setiap bulan itu diaudit oleh auditor independen yang ditunjuk oleh Pertamina,” tukas dia.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka

















