Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara memberikan konferensi pers terkait hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis (16/6). RDG BI pada 15-16 Juni 2016 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6,5 persen dengan suku bunga Deposit Facility turun sebesar 25 bps menjadi 4,5 persen dan Lending Facility turun sebesar 25 bps menjadi 7 persen dan berlaku efektif pada 17 Juni 2016. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pd/16.

Jakarta, Aktual.com – Bank Indonesia menilai laju inflasi September 2016 sebesar 0,22 persen, bersumber dari kenaikan tarif barang yang diatur pemerintah (administered prices), sementara kelompok harga bergejolak (volatile food) mengalami deflasi.

Inflasi dari “administered prices” sebesar 0,14 persen karena kenaikan harga rokok kretek filter, tarif listrik, rokok kretek, rokok putih, dan tarif air minum dari Perusahaan Air Minum (PAM), kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta, Senin (3/10).

“Inflasi di bulan September bersumber dari inflasi pada komponen ‘administered prices’ dan komponen inti. Inflasi ‘administered prices’ sebesar 0.14 persen (mtm) atau secara tahunan mengalami deflasi sebesar 0,38 persen (yoy),” ujarnya.

Tirta menyebutkan, selain tekanan dari “administered prices”, gejolak inflasi September 2016 juga disumbang oleh komponen inflasi inti (core inflation) yang sebesar 0,33 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan 3,21 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Beberapa komoditas penyumbang inflasi inti adalah tarif pulsa ponsel, tarif sewa rumah, uang kuliah akademi/perguruan tinggi, mobil, nasi dengan lauk, dan tarif kontrak rumah.

Sedangkan, untuk “volatile food”, BI mencatat deflasi sebesar 0,09 persen (mtm) atau secara tahunan mengalami inflasi sebesar 6,51 persen (yoy). Deflasi tersebut terutama bersumber dari koreksi harga komoditas telur ayam ras, daging ayam ras, wortel, cabai rawit, bayam, kangkung, dan kentang.

Tirta memandang inflasi di sisa tahun akan tetap terkendali dan berada pada batas bawah sasaran inflasi 2016, yaitu 3-5 persen (yoy). Pihaknya dan pemerintah akan memperkuat koordinasi dalam mengendalikan inflasi khususnya mewaspadai tekanan inflasi “volatile food” akibat musim kemarau basah La Nina.

“Koordinasi Pemerintah dan Bank Indonesia akan difokuskan pada upaya menjamin pasokan dan distribusi, khususnya berbagai bahan kebutuhan pokok, dan menjaga ekspektasi inflasi,” kata dia.

Pada September 2016, seperti diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) Senin siang tadi, terjadi inflasi sebesar 0,22 persen, sehingga inflasi tahun kalender Januari-September 2016 mencapai 1,97 persen dan tingkat inflasi dari tahun ke tahun (yoy) 3,07 persen.

ANT

Artikel ini ditulis oleh:

Antara
Arbie Marwan