Jakarta, Aktual.com — Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas bersama jajaran Menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, guna mematangkan rencana pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall) di pesisir utara Pulau Jawa, dikutip dari laman Instagram Sekretariat Kabinet @sekretariat.kabinet, Selasa (21/4/2026).

Berdasarkan keterangan dari Sekretariat Kabinet, proyek ini menjadi salah satu prioritas strategis nasional yang dirancang untuk melindungi kawasan pesisir yang memiliki peran vital bagi perekonomian nasional. Kawasan tersebut mencakup sekitar 60 persen wilayah industri serta dihuni lebih dari 30 juta penduduk.

Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Laksamana Madya TNI (Purn.) Didit Herdiawan Ashaf, menyampaikan bahwa proyek tersebut masih berada pada tahap perencanaan mendalam, khususnya terkait aspek konstruksi dan pemanfaatan sumber daya dalam negeri.

“Masih dalam tahap perencanaan dan kita akan mendalami lagi untuk kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan konstruksi,” ujar Didit kepada wartawan usai rapat.

Meski belum menetapkan target waktu pembangunan, Presiden Prabowo disebut telah memberikan arahan agar proses eksekusi proyek tersebut dipercepat. Menurut Didit, pemerintah saat ini masih menghitung kebutuhan sumber daya yang tersedia di dalam negeri untuk mendukung pembangunan tersebut.

“Rencana dari hasil hitungan, masih dihitung waktunya, karena berkaitan dengan resources yang ada di Indonesia, kita manfaatkan semua,” katanya.

Dalam rapat tersebut, Presiden juga menekankan pentingnya keterlibatan kalangan akademisi. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan bahwa perguruan tinggi akan dilibatkan secara aktif dalam proyek ini melalui kontribusi riset dan inovasi.

Brian mengungkapkan, sejumlah penelitian terkait tanggul laut raksasa sebenarnya telah dilakukan dan diuji coba, termasuk di wilayah Demak dan Semarang. Hasil riset tersebut akan dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan yang efisien dan tepat guna.

“Nah, banyak hasil-hasil penelitian di kampus yang juga sudah diuji coba. Salah satunya yang berhasil di Demak, Semarang. Itu juga nanti kita diminta berpartisipasi aktif,” ujar Brian.

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berencana mengundang para guru besar dan pakar dalam waktu dekat untuk membahas kontribusi mereka secara langsung dalam proyek tersebut.

“Iya, jadi nanti pekan depan kami akan mengundang beberapa guru besar yang sudah memiliki keahlian dan terlibat dalam beberapa project, seperti reklamasi dan pembuatan daratan,” katanya.

Brian menambahkan, para akademisi tersebut nantinya akan tergabung dalam tim pelaksana yang dipimpin oleh Kepala BOPPJ. Keterlibatan mereka diharapkan tidak hanya sebatas kajian teknis, tetapi juga pada implementasi di lapangan.

Pemerintah menegaskan bahwa pembangunan giant sea wall tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga kualitas perencanaan dan keberlanjutan lingkungan. Pendekatan yang digunakan akan mempertimbangkan aspek ekologis serta efisiensi pemanfaatan sumber daya domestik.

Selain Menteri Pendidikan Tinggi, rapat tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, antara lain Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Dalam paparan yang ditampilkan pada rapat, pemerintah juga menunjukkan simulasi pemodelan kawasan perairan Teluk Jakarta sebelum dan sesudah pembangunan tanggul laut raksasa. Simulasi tersebut menjadi salah satu dasar dalam pengambilan kebijakan pembangunan ke depan.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri, proyek giant sea wall diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang dalam melindungi kawasan pesisir utara Jawa dari ancaman banjir rob dan perubahan iklim.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi