Padang, Aktual.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Barat mengirimkan perahu karet, untuk menangani bencana banjir di Kabupaten Solok dan Kota Solok akibat luapan Batang Lembang.
“Kami sedang koordinasi terkait kebutuhan perahu karet di lokasi bencana. Pagi ini langsung kami kirimkan,” kata Kepala BPBD Sumbar Nasridal Patria, di Padang, Kamis (5/1).
Dua daerah itu cukup parah terkena banjir. Daerah lain, menurutnya, juga terkena banjir akibat hujan deras yang turun sejak Rabu (4/1) di antaranya longsor di Sungai Landia, Kabupaten Agam, dan banjir di Nagari Tarusan, Pesisir Selatan.
Penanganan bencana tersebut langsung dilakukan oleh BPBD masing-masing daerah. “Sekarang baru Solok yang minta bantuan dari Sumbar.”
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sumbar Rumainur mengatakan, ratusan kecamatan pada 17 kabupaten dan kota di daerah itu memiliki pergerakan tanah kategori menengah sampai tinggi, sehingga berpotensi terjadi bencana geologi seperti longsor dan banjir jika terjadi hujan ekstrem.
Dia mengatakan telah menyurati kabupaten dan kota untuk meningkatkan kewaspadaan terutama pada daerah rawan bencana alam sesuai data terbaru Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
“Sesuai data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika hujan kemungkinan masih akan mengguyur sejumlah daerah di Sumbar hingga akhir Januari, sehingga pergerakan tanah harus diwaspadai.”
“Untuk hal ini kami juga berkoordinasi dengan Dinas PU dan Penataan Ruang Sumbar yang memiliki alat berat untuk disiagakan pada titik-titik rawan bencana alam itu.”
Badan Geologi Kementerian ESDM merilis wilayah potensi gerakan tanah atau longsor dan banjir di wilayah Sumbar pada Januari 2017. Potensi gerakan tanah tersebut dinyatakan dalam dua tingkatan potensi, yaitu menengah dan tinggi.
Potensi menengah artinya bila terjadi curah hujan di atas normal, bisa terjadi pergerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah, sungai, gawir, dan tebing jalan.
Sedangkan daerah yang memiliki potensi tinggi, jika pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah dalam kondisi curah hujan di atas normal, serta gerakan tanah lama dapat aktif kembali. Pergerakan tanah itu bisa memicu bencana geologi, seperti tanah longsor dan banjir atau banjir bandang.
Artikel ini ditulis oleh:
Antara
Wisnu
















