Jakarta, Aktual.co — Pemerintah Iran, memanggil utusan Turki di Tehran untuk menjelaskan pernyataan Presiden Recep Tayyip Erdogan, terkait peran Iran di Yaman dan sekitarnya.
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Marzieh Afkham, pemerintah memanggil kuasa usaha Turki untuk Iran, karena duta besarnya berhalangan, guna menanggapi keberatan dan penyesalan Iran atas tanggapan Erdogan, yang tidak sesuai dan tidak biasa.
“Kami meminta tanggapan jelas dan meyakinkan,” kata Afkham, di tengah seruan pembatalan rencana kunjungan Erdogan ke Iran pada April 2015, seperti dilansir dari AFP, Senin (30/3).
Pada Kamis (26/3), Erdogan mengeluarkan pernyataan meminta Iran dan kelompok teroris keluar dari Yaman.
Erdogan juga menuding Iran, telah ikut campur tangan dalam permasalahan di negara lain di Timur Tengah, seperti, berperan dalam menasihati dan menggalang kelompok milisi Syiah dalam pertempuran melawan Negara Islam (IS) di Irak.
“Iran memiliki keinginan untuk meningkatkan pengaruhnya di Irak dan berusaha untuk mengusir IS dari wilayah tersebut hanya untuk kepentingannya sendiri,” kata Erdogan.
Namun, pernyataan ini ditanggapi dengan tenang oleh kementerian lur negeri Iran. “Pendekatan Iran dengan negara-negara tetangga didasarkan pada perdamaian, stabilitas, kerja sama dan saling menghormati. Kami percaya kerja sama Iran-Turki juga demikian,” kata dia.
Sementara itu, Turki menunjukkan dukungannya terhadap serangan sekutu pimpinan Arab Saudi yang melakukan serangan udara terhadap milisi pemberontak Huthi dari kelompok Syiah di Yaman.
Pasukan sekutu bersumpah terus melakukan gempuran hingga milisi tersebut menghentikan pemberontakannya terhadap Presiden Abedrabbo Mansour Hadi, yang menyelamatkan diri ke Riyadh.
Presiden Hadi dan pendukungnya menuding para pemberontak, yang menguasai Ibu Kota Sanaa sejak 2014, mendapat dukungan dari Iran.
Artikel ini ditulis oleh:

















