Ilustrasi Polusi Udara (Istimewa)

Jakarta, Aktual.com – “Bintang kecil di langit yang tinggi, amat banyak menghias angkasa….”

Penggalan lirik dari lagu berjudul “Bintang Kecil” ciptaan Meinar Louis tersebut sepertinya tidak akan lagi dirasakan anak-anak sekarang.

Bintang yang dahulu bisa dilihat dengan mata telanjang, kini diperlukan alat bantu yang berfungsi mengumpulkan radiasi elektromagnetik dan membentuk citra dari benda yang diamati atau sering disebut teleskop.

Salah seorang yang mengeluhkan hilangnya bintang di langit Jakarta adalah Ronny Syamara, salah seorang astronom Planetarium Jakarta.

“Beberapa benda langit tertentu masih bisa diamati, seperti planet, bulan, bintang-bintang terang itu masih, tapi untuk objek-objek yang kategorinya deep sky object, objek-objek yang cukup redup, secara kasat mata sudah susah dilihat,” ujar Ronny terlihat setengah berapi-api.

“Jakarta termasuk cukup parah untuk kualitas cahaya,” lanjut pria yang ditemui di ruang tamu kantor Planetarium Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, itu.

Sumber cahaya artifisial yang berkontribusi dalam polusi cahaya antara lain light trespass atau cahaya tumpahan yang tanpa sengaja masuk untuk menerangi rumah dan clutter atau cahaya buatan di perkotaan.

Artikel ini ditulis oleh: