Jakarta, Aktual.co — Presiden Yaman, Abedrabbo Mansour Hadi, meminta agar pembicaraan rekonsiliasi yang dimediasi PBB, dipindahkan ke negara tetangganya, Arab Saudi, jika kesepakatan tidak dapat dicapai di lokasi perundingan saat ini di Yaman.

Pembicaraan itu, yang telah diselenggarakan di ibu kota Sanaa yang dikuasai milisi Syiah, telah gagal sejak Hadi melarikan diri ke kota kedua, Aden, bulan lalu setelah berminggu-minggu di bawah tahanan rumah.

Presiden yang didukung Barat itu, yang mencabut surat pengunduran diri pada Januari setelah melarikan diri dengan mengatakan surat itu telah dibuat di bawah tekanan, telah mengusulkan agar pembicaraan dilanjutkan di Aden atau di kota ketiga Yaman, Taez, yang juga di luar kendali milisi Huthi.

“Oleh karena Aden dan Taez tidak diterima oleh beberapa pihak, saya mengusulkan untuk memindahkan pembicaraan ke markas GCC di Riyadh,” kata Hadi kepada para kepala suku, dilansir dari AFP, Selasa (3/3).

Dia juga menyeru agar enam anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), kelompok negara-negara kaya minyak tetangga Yaman, untuk mensponsori pembicaraan itu, kata seorang stafnya.

Kelompok Huthi, yang mengendalikan sebagian besar Yaman utara dan telah menyiapkan lembaga pemerintahan mereka sendiri di ibu kota, telah menentang setiap perubahan tempat untuk pembicaraan yang ditengahi Perserikatan Bangsa Bangsa itu.

Partai Kongres Umum Rakyat yang menggulingkan pemimpin kuat Ali Abdullah Saleh, yang secara luas dituduh mendukung milisi, telah memperingatkan bahwa ia akan memboikot perundingan jika diadakan di luar Sanaa.

Tidak jelas jika Riyadh akan lebih dapat diterima sebagai tempat perundingan oleh kelompok Huthi atau pendukung mereka.

GCC telah mendukung Hadi dan beberapa negara anggotanya telah memindahkan kedutaan besar mereka ke Aden sejak ia melarikan diri.

Negara-negara Teluk yang memiliki pemerintahan Sunni sangat mencurigai kelompok Huthi, takut mereka akan membawa Yaman ke dalam orbit Syiah Iran.

Artikel ini ditulis oleh: