Jakarta, Aktual.co —Untuk melihat dan mengetahui keadaan Irak yang sebenarnya memang tidak cukup  dengan mengandalkan referensi media massa Barat, yang sering bias dalam memberitakan masalah Irak, seperti yang dilaporkan Wartawan Aktual.co, Satrio Arismunandar, dari Irak. Tetapi kita perlu datang dan melihat langsung situasinya ke Irak. Banyak kepentingan asing yang bermain di sini, dan media massa Barat mainstream adalah juga bagian dari kepentingan tersebut.

Apalagi Irak ada negeri Arab yang menempati posisi strategis. Mayoritas warganya beragama Islam, yang terbagi dalam tiga kelompok etnis dan sektarian besar, yakni warga Syiah, Sunni, dan Kurdi. Dari 36 juta penduduk Irak, dilihat dari aspek agama, penganut Muslim Syiah mencapai sekitar 60-65 persen, dan penganut Sunni 32-37 persen. Sedangkan  dilihat dari aspek etnis, mayoritas 75-80 persen penduduk Irak adalah bangsa Arab.

Kelompok etnis utama lainnya adalah Kurdi (15-20 persen), Asiria, Turkmen Irak, dan lain-lain (5 persen), yang kebanyakan tinggal di utara dan timurlaut negeri itu. Dalam konteks minyak bumi sebagai sumber daya strategis dunia, Irak adalah negara yang kaya minyak dan menguasai cadangan minyak terbukti yang sangat besar. Cadangan minyak Irak hanya kalah dari Arab Saudi. Daerah minyak Irak banyak berlokasi di wilayah etnis Kurdi di bagian utara. Konflik politik internal dan eksternal Irak, yang menyangkut penguasaan wilayah, dengan demikian juga tidak bisa dipisahkan dari motivasi menguasai sumber-sumber minyak tersebut.

Dengan latar belakang seperti itu, tak heran jika Irak menjadi obyek pertarungan kepentingan kekuatan-kekuatan besar, perusahaan perminyakan raksasa, industri pertahanan, dan banyak lagi. Saat ini mayoritas alat utama sistem persenjataan militer Irak didominasi pasokannya oleh industri pertahanan AS. Maklum, sebagai kekuatan penakluk utama, pasukan AS masih bercokol di Irak dan mereka tentu tidak mau rugi, sesudah capek-capek berperang dan mengeluarkan ongkos besar untuk sampai di sini. Posisi pemasok kedua dikuasai Rusia, yang merupakan pemasok senjata tradisional Irak sejak zaman Saddam.