Jakarta, Aktual.co — Para pengamat mengatakan bahwa pembunuhan tersebut merupakan peringatan untuk Jepang, negara kawasan pasifik yang menolak terlibat dalam konflik Timur Tengah, dan membuktikan kelemahan diplomasinya di kawasan tersebut.

“Pemerintah kekurangan informasi yang membuat mereka sulit mengendalikan situasi. Ini adalah peringatan dan Jepang harus meningkatkan kemampuan intelijennya di dalam dan luar negeri,” ujar Takashi Kawakami, pakar keamanan dan profesor di Takushoku University, dilansir dari AFP, Senin (2/2).

Kelompok IS mengklaim dalam sebuah video yang dirilis dua pekan lalu itu, bahwa mereka telah membunuh jurnalis perang Kenji Goto dan menjadi pemenggalan kedua atas sandera Jepang dalam seminggu terakhir setelah hal sama menimpa temannya Haruna Yukawa.

Ketika krisis penyanderaan terjadi, tampak jelas bagaimana Tokyo kekurangan kontak dan pengetahuan yang mendalam tentang kawasan penyanderaan dan terlihat sangat bergantung pada informasi Yordania yang juga mencoba membebaskan pilotnya.

Penerbang tersebut disandera setelah pesawat tempurnya jatuh di wilayah IS pada akhir Desember 2014.

Sementara itu pada Minggu (1/2), pemerintah Jepang mengatakan pihaknya akan memperkuat operasi pengumpulan data intelijen dan meningkatkan pengamanan di fasilitas-fasilitas Jepang yang ada di seluruh dunia.

Profesor Studi Islam dan Timur Tengah Doshisa University di Kyoto Masanori Naito mengatakan bahwa seharusnya Jepang bertindak lebih bijak untuk meminta pertolongan kepada Turki yang sebelumnya menyelamatkan warganya dari penyanderaan IS.

“Sepertinya pemerintah harus mempelajari gagasan untuk mengerahkan militer Jepang jika ada warga yang terancam di luar negeri,” ujar dia.

Artikel ini ditulis oleh: