Jakarta, Aktual.co — Sebanyak 19 tentara dan warga sipil tewas dalam bentrokan yang terjadi di timur Ukraina, setelah sebelumnya terjadi peperangan yang sengit antara pasukan pemerintah dan pemberontak pro Rusia.

Militer Ukraina mengatakan, 13 tentara tewas dan 20 lainnya mengalami luka-luka. Sedangkan, enam warga sipil tewas dalam pertempuran di Donetsk Republik Rakyat. Peperangan itu kembali memanas setelah gencatan senjata tak disepakati oleh kedua kelompok itu, Sabtu (31/1) lalu.

Berdasarkan laporan Al-Jazeera, rentetan penembakan terus terjadi, bahkan memaksa warga setempat untuk menceri perlindungan atas peperangan itu.

 “Jalan-jalan hampir sepi dan orang-orang yang dapat bersembunyi di ruang bawah tanah mereka,” kata dia.

Selain itu, warga setempat juga tepaksa bersembunyi di tengah musim dingin, tanpa air atau listrik.

Seorang pensiunan Yevdokiya Bugay (86) dari Yenakievo, terpaksa diungsikan dari rumahnya karena kediamannya hancur berkeping-keping.

 “Saya gemetar. Aku tinggal sendirian. Aku sedang duduk di sudut dan saya baru saja selamat,” katanya kepada Al Jazeera.

 Mediator dan perwakilan Ukraina menuduh separatis menolak kesepakatan meskipun tekanan internasional yang meningkat untuk meredakan kebangkitan berdarah dalam pertempuran yang telah menyebabkan sejumlah orang tewas dalam beberapa hari terakhir.

 Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE), yang terlibat dalam pembicaraan bersama dengan Rusia, mengatakan bahwa negosiator pemberontak di Minsk

“Bahkan tidak siap untuk membahas pelaksanaan gencatan senjata dan penarikan senjata berat.”

Sebaliknya wakil pemberontak menyerukan revisi total rencana perdamaian sebelumnya yang didukung Kremlin ditandatangani pada bulan September yang telah membentuk dasar untuk semua negosiasi, OSCE mengatakan dalam sebuah pernyataannya. (Laporan: Wisnu Yusep)

Artikel ini ditulis oleh: