Jakarta, Aktual.com — Lonjakan penjualan mobil listrik dalam tiga tahun terakhir dinilai belum cukup menandai pelebaran pasar yang sehat. ID COMM menilai pertumbuhan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia berpotensi stagnan, terutama karena daya beli konsumen yang masih lemah dan struktur pasar otomotif yang belum berubah signifikan.

Research Associate ID COMM, Claudius Surya atau Audi, mengatakan adopsi mobil listrik selama ini masih dikendalikan kelompok konsumen menengah atas. “Daya beli orang-orang di Indonesia ini masih cukup rendah,” ujar Audi, Kamis (11/12/2025). Menurutnya, sebagian besar pembeli EV adalah early adopters yang memiliki preferensi gaya hidup, bukan konsumen rata-rata yang kini masih sensitif terhadap harga.

Data Gaikindo menunjukkan penjualan battery electric vehicle (BEV) meningkat dari 15.318 unit pada 2023 menjadi 43.188 unit pada 2024. Dalam delapan bulan 2025, penjualan kembali naik menjadi 51.191 unit. Namun di tengah tren positif tersebut, Audi menilai pasar EV secara struktural tidak melebar ke segmen berpendapatan menengah yang menjadi fondasi industri otomotif nasional.

Hal ini berkaitan dengan daya beli masyarakat yang stagnan di tengah tekanan ekonomi makro. Kenaikan harga barang kebutuhan, perlambatan pertumbuhan ekonomi, serta beban kredit rumah dan konsumsi membuat alokasi pembelian kendaraan baru semakin terbatas. “Kalau kita mau buat mobil listrik makin grow, mobil listrik yang sekarang 190 juta itu harus dianggap sebagai disposable, yang dibuang aja,” ujar Audi. Ia menilai konsumen baru bisa memandang EV sebagai pilihan rasional bila memiliki kemampuan belanja minimal Rp250–300 juta.

Audi memperkirakan pasar EV akan memasuki fase stagnan saat kelompok konsumen berdaya beli tinggi dan FOMO mencapai titik jenuh. “Begitu semua orang yang FOMO ini sudah nyampe level ini semua, ya sudah, penjualannya stagnan,” jelasnya. Ia memproyeksikan stagnasi dapat terjadi saat penetrasi EV menyentuh 20 persen dari total penjualan mobil nasional.

Dari sisi otomotif, tantangan lain adalah keterbatasan pasar di luar Jakarta dan Jabodetabek. Dua wilayah ini menyumbang 40–50 persen total penjualan mobil nasional. Jika adopsi EV tidak meluas ke kota tingkat dua dan tiga, industri akan kesulitan menembus skala produksi yang ekonomis. Dengan pasar nasional sekitar 800 ribu unit per tahun, penetrasi stabil membutuhkan minimal 350–400 ribu unit EV tahunan. “Tapi apakah bisa naik jadi 350 ribu, time will tell,” kata Audi.

Terkait dihentikannya insentif impor CBU EV, Audi menilai dampaknya tidak signifikan karena mayoritas model kini berstatus CKD. “Tapi narasinya mungkin ke banyak orang akan bikin khawatir,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi