Jakarta, Aktual.co — Apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat Polinesia asli yang pernah tinggal di Pulau Paskah?
Beberapa peneliti berpendapat, bahwa  pulau Rapa Nui, yang luasnya sekitar 63 mil persegi di bagian tenggara Samudera Pasifik, tidak berpenghuni pasca para penduduk menggunakan sumber daya alam.

Namun,  peneliti lain menerangkan, bahwa penduduk pulau itu mulai eksodus setelah orang Eropa membawa penyakit atau wabah penyakit – dan mengambil banyak warga setempat sebagai budak.

Tetapi, penelitian terbaru menyatakan kemungkinan lain, dimana kondisi lingkungan yang keras di pulau – dengan intensitas hujan yang tinggi menyebabkan kualitas tanah menurun (longsor), bukan eksodus penduduk asli yang selama ini diberitakan- sebelum bangsa Eropa tiba pada tahun 1722, demikian  Live Science melaporkan.

“Hasil penelitian kami benar-benar cukup mengejutkan bagi saya tentunya,” kata Dr. Thegn Ladefoged, Profesor antropologi dari University of Auckland, Selandia Baru sekaligus penulis makalah yang menjelaskan penelitian tersebut, menyatakan dalam surat elektronik-nya, kepada Huffington Post .

“Singkatnya, penelitian kami tidak mendukung pendapat tentang perpindahan masal yang terjadi sebelum kedatangan bangsa Eropa. Wilayah atau lingkungan yang kurang optimal berubah sebelum kontak Eropa.”

Para peneliti menganalisis 428 alat obsidian dari tanggal pembuatan dan serpihan batu obsidian yang ditemukan di berbagai situs arkeologi di pulau tersebut. Dengan memadukan unsur alat dan batu, para peneliti bisa menyimpulkan kapan dan bagaimana penduduk Rapa Nui kuno menggunakan tanah dan sumber daya alam di berbagai kawasan dalam pulau itu.

Apalagi yang ditemukan peneliti? Pemakaian lahan dan sumber daya alam yang bervariasi di seluruh pulau, lebih mencerminkan masalah lingkungan dari cuaca yang buruk.

“Sementara kita tidak memiliki data penduduk langsung, jelas bahwa orang-orang bereaksi terhadap  perubahan cuaca regional di pulau, sebelum mereka hancur oleh pengenalan penyakit Eropa dan proses bersejarah lainnya,” ujar Ladefoged.

Para peneliti mencatat hasil riset. Hasil penelitian dapat berguna dalam studi masyarakat prasejarah lainnya yang mengalami kepunahan secara mendadak.

Makalah tersebut dipublikasikan secara online dalam Prosiding National Academy of Sciences pada 5 Januari 2015 lalu.

Artikel ini ditulis oleh: