Jakarta, Aktual.com – PT PP (Persero) Tbk mencatatkan rugi bersih sebesar Rp6,75 triliun sepanjang 2025, membengkak signifikan sebesar 344% dibandingkan rugi Rp1,52 triliun pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan kepada Bursa Efek Indonesia (BRI) dikutip Jumat (3/4/2026), pendapatan perseroan juga turun 18% menjadi Rp16,27 triliun dari Rp19,81 triliun pada 2024, mencerminkan tekanan pada lini konstruksi di tengah perlambatan proyek dan eksekusi.
Kinerja emiten konstruksi pelat merah ini terutama terpukul oleh lonjakan kerugian penurunan nilai (impairment) yang mencapai Rp7,35 triliun, melonjak tajam dari hanya Rp356,26 miliar pada tahun sebelumnya. Beban ini menjadi faktor utama yang menyeret bottom line perseroan ke zona negatif yang lebih dalam.
Selain itu, beban keuangan tetap tinggi di level Rp2,13 triliun naik sebesar 12,7% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp1,89 triliun, seiring dengan tekanan struktur pendanaan dan beban bunga atas utang yang masih besar.
Dari sisi neraca, tekanan terlihat pada penurunan ekuitas yang anjlok menjadi Rp4,30 triliun dari Rp12,38 triliun pada 2024.
Di saat yang sama, total liabilitas masih berada di level tinggi sebesar Rp38,67 triliun, mencerminkan leverage yang kian berat. Dengan rincian liabilitas jangka pendek sebesar Rp19,44 triliun dan likuiditas jangka panjang sebesar Rp19,23 triliun.
Likuiditas juga tergerus, dengan posisi kas dan setara kas turun menjadi Rp2,89 triliun dari Rp4,18 triliun pada tahun sebelumnya, sejalan dengan arus kas pendanaan yang negatif dan kebutuhan pembayaran kewajiban.
VP Corporate Secretary PPRO Afrilia Pratiwi menyatakan, langkah penataan yang dilakukan menjadi bagian krusial dalam memperkuat fundamental Perseroan secara menyeluruh.
Dalam upaya tersebut, PP juga menempuh sejumlah strategi, di antaranya memperkuat fundamental keuangan dengan menitikberatkan pada perbaikan arus kas operasional serta penurunan liabilitas secara bertahap.
Selain itu, PPRO mendorong pertumbuhan yang lebih berkualitas melalui peningkatan produktivitas dan kinerja operasional, termasuk lewat efisiensi biaya, optimalisasi produktivitas, penguatan pendapatan berulang (recurring income), serta memperluas kerja sama strategis guna mendukung pengembangan proyek-proyek prioritas.
“Percepatan monetisasi aset, dan peningkatan tata kelola perusahaan dan manajemen risiko yang terintegrasi,” ucapnya dalam keterangan resmi.
Manajemen menegaskan langkah restrukturisasi dan monetisasi aset menjadi kunci untuk memperbaiki fundamental, termasuk melalui efisiensi biaya, peningkatan pendapatan berulang, serta penguatan tata kelola dan manajemen risiko. ***
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi

















