Arsip - Sejumlah warga Palestina terlihat setelah kembali ke wilayah Sheikh Radwan yang hancur di utara Kota Gaza, pada 6 November 2025. (ANTARA/XInhua/Rizek Abdeljawad)
Arsip - Sejumlah warga Palestina terlihat setelah kembali ke wilayah Sheikh Radwan yang hancur di utara Kota Gaza, pada 6 November 2025. (ANTARA/XInhua/Rizek Abdeljawad)

Moskow, aktual.com – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dilaporkan bersiap menolak undangan Presiden AS Donald Trump untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza, demikian dilaporkan Financial Times pada Selasa (20/1) dengan mengutip pejabat Inggris.

Starmer mengatakan pada Senin (19/1) bahwa ia sedang berdiskusi dengan para sekutu mengenai ketentuan Dewan Perdamaian tersebut.

Namun, para pejabat Inggris mengatakan kepada harian itu bahwa Starmer tidak berniat untuk bergabung dengan inisiatif Trump.

“Posisi resmi kami adalah masih mempertimbangkannya. Namun, Anda tidak perlu menjadi jenius politik untuk menyadari bahwa membayar dana pajak sebesar 1 miliar dolar AS hanya untuk duduk di sebuah dewan bersama Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan diterima,” kata salah satu pejabat Inggris yang tidak disebutkan namanya.

“Saya rasa orang-orang tidak akan mendaftar untuk itu,” tambahnya.

Selain itu, Starmer dilaporkan terbuka untuk menghadiri pertemuan resmi G7 di Paris yang diusulkan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, guna membahas sejumlah isu kebijakan luar negeri, termasuk Greenland dan Ukraina.

Pekan lalu, Trump mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian untuk Gaza, yang terdiri dari Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, utusan khusus Trump Steve Witkoff, menantu Trump Jared Kushner, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Presiden Bank Dunia Ajay Banga, serta Wakil Penasihat Keamanan Nasional AS Robert Gabriel.

Trump juga mengundang para pemimpin sejumlah negara, termasuk Rusia dan Belarus, untuk bergabung.

Sementara itu, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa Moskow tidak mengetahui seluruh rincian inisiatif tersebut dan berharap mendapatkan klarifikasi selama pembicaraan dengan Amerika Serikat.

Presiden Belarus Alexander Lukashenko, yang menyetujui untuk bergabung dengan dewan tersebut, menepis klaim bahwa partisipasi dalam organisasi itu mengharuskan kontribusi sebesar 1 miliar dolar AS (sekitar Rp 16,9 triliun).

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain