Arsip - Presiden Iran Masoud Pezeshkian berbicara dalam wawancara dengan CNN, selama kunjungan resminya di New York, Amerika Serikat, 24 September 2024. (ANTARA/Iranian Presidency/HO/Anadolu/pri.)
Arsip - Presiden Iran Masoud Pezeshkian berbicara dalam wawancara dengan CNN, selama kunjungan resminya di New York, Amerika Serikat, 24 September 2024. (ANTARA/Iranian Presidency/HO/Anadolu/pri.)

Jakarta, aktual.com — Utusan Rusia, Mikhail Ulyanov, mendesak Amerika Serikat (AS) untuk mengubah pendekatan dalam bernegosiasi dengan Iran dengan meninggalkan tekanan, ancaman, dan ultimatum. Ia menilai metode tersebut tidak efektif dalam menghadapi Teheran.

“AS terbiasa melakukan negosiasi dari posisi yang kuat, mengancam akan menggunakan kekuatan militer atau memperketat sanksi. Jelas bahwa skema ini tidak berhasil dengan Iran,” tulisnya di X dilansir Aljazeera, Senin (27/4/2026).

Ia menambahkan bahwa pendekatan yang lebih konstruktif perlu diambil agar dialog dapat berjalan efektif.

“Cara terbaik bagi AS dalam keadaan saat ini adalah dengan meninggalkan semua elemen posisinya yang tampak seperti pemerasan, ultimatum, dan tenggat waktu,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah belum jelasnya akhir konflik antara AS bersama Israel melawan Iran. Upaya perundingan damai juga kembali tertunda setelah utusan Presiden AS Donald Trump batal berangkat ke Islamabad, Pakistan, untuk putaran kedua negosiasi.

Meski demikian, Trump menegaskan pembatalan tersebut tidak berarti konflik akan langsung kembali memanas. Sebelumnya, Gedung Putih sempat menyampaikan bahwa utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan melakukan pembicaraan langsung dengan pihak Iran guna mendorong tercapainya kesepakatan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah menyelesaikan kunjungannya ke Pakistan setelah bertemu sejumlah pejabat penting, termasuk Panglima Militer Pakistan Asim Munir, Perdana Menteri Shehbaz Sharif, serta Menteri Luar Negeri Ishaq Dar dalam rangka mediasi konflik.

Namun, Trump akhirnya membatalkan rencana tersebut.

“Kami memegang semua kendali. Mereka bisa menghubungi kami kapan saja, tetapi tidak perlu lagi melakukan penerbangan 18 jam hanya untuk duduk dan membicarakan hal yang tidak menghasilkan apa-apa,” kata Trump, mengutip pernyataannya kepada timnya.

Saat ini, Araghchi juga telah meninggalkan Pakistan dan melanjutkan perjalanan ke Rusia untuk membahas gencatan senjata serta perkembangan situasi Iran bersama Presiden Rusia Vladimir Putin.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain