Jakarta, Aktual.co —  Pesawat dan kapal dari beberapa negara pada Senin (29/12) menjelajahi perairan Indonesia di mana sebuah pesawat Air Asia QZ 8501 rute Surabaya-Singapura hilang bersama 162 penumpang dan kru. Dan, lebih dari satu hari misteri penerbangan terbaru di kawasan tersebut. Namun, para pejabat meragukan terjadi sabotase di akhir pekan yang tragis.

Penerbangan AirAsia 8501 lenyap dari radar pada Minggu pagi lalu, di wilayah udara tebal dengan awan badai dalam perjalanan dari Surabaya, Indonesia menuju Singapura. Pencarian diperluas, hari ini Senin. Namun, belum menemukan jejak A320 Airbus.

“Berdasarkan koordinat yang kita tahu, evaluasi akan posisi terjadinya kecelakaan diperkirakan adalah di laut. Dan, bahwa hipotesis adalah pesawat berada di dasar laut,” kata  Kepala Badan SAR Nasional, Marsdya F Henry Bambang Sulistyo, dalam konferensi pers.

Laksamana Pertama Sigit Setiayana, komandan Naval Aviation Center di pangkalan Angkatan Udara Surabaya, mengatakan 12 kapal Angkatan Laut, lima pesawat, tiga helikopter dan sejumlah kapal perang yang mengambil bagian dalam pencarian, bersama dengan kapal dan pesawat dari Singapura dan Malaysia. Tidak hanya itu, Australian Air Force juga mengirim pesawat pencari.

Namun sayang, pencarian harus menghadapi hujan deras pada Minggu kemarin. Tapi, Setiayana mengatakan hari ini cuaca cukup baik. “Insya Allah, kita bisa menemukannya segera,” katanya kepada The Associated Press.

Hilangnya pesawat dan diduga kecelakaan berantai merupakan ‘tahun menakjubkan’ tragis bagi perjalanan Maskapai penebangan di kawasan Asia Tenggara. Kerugian Maskapai asal Malaysia yang hilang belum bisa dijelaskan lebih jauh, dimulai jatuhnya Malaysia Airlines Flight 370 pada bulan Maret dan jatuhnya Malaysia Airlines Flight 17 pada bulan Juli lalu, di wilayah Ukraina.

Di bandara Surabaya, kerabat penumpang yang terdaftar dalam manifest pesawat, menangis dan memeluk satu sama lain. Nias Aditya, seorang ibu rumah tangga dari Surabaya, diliputi kesedihan luar biasa saat ia menemukan nama suaminya, Nanang Priowidodo, dalam daftar penumpang.

Bersama keluarganya, agen tour berusia 43 tahun tersebut telah mengambil empat rute perjalanan ke Singapura, Malaysia, dan Pulau Lombok di Indonesia.

“Dia hanya bilang, ‘Puji Tuhan, tahun baru ini membawa banyak keberuntungan,'” kenang Aditya, sambil menitikkkan air mata.

Sebagian besar penumpang dan awak adalah orang Indonesia, yang sering mengunjungi Singapura, terutama pada hari libur.

Untuk diketahui, penerbangan 8501 berangkat Minggu pagi dari kota kedua terbesar di Indonesia dan sekitar setengah jalan ke Singapura, langsung menghilang dari radar. Pesawat tersebut mengudara selama sekitar 42 menit.

Tidak ada sinyal marabahaya dari bermesin ganda pesawat tersebut, kata Djoko Murjatmodjo, Direktur Perhubungan Udara.  
Komunikasi terakhir antara kokpit dan kontrol lalu lintas udara berada di 06:12 (23:12 GMT Sabtu), ketika salah satu pilot diminta untuk meningkatkan ketinggian dari 32.000 kaki (9.754 meter) ke 38.000 kaki (11.582 meter), Murjatmodjo mengatakan, pesawat terakhir terlihat di radar di 6:16 dan pergi beberapa menit kemudian, katanya kepada pewarta.

Indonesia, Singapura dan Malaysia melancarkan operasi pencarian di dekat Pulau Belitung di Laut Jawa, wilayah di mana pesawat tersebut kehilangan kontak dengan pantauan radar.

CEO AirAsia Group, Tony Fernandes terbang khusus ke Surabaya dan mengatakan pada konferensi pers, bahwa fokus untuk saat ini harus pada pencarian penumpang dan pesawat ketimbang penyebab insiden tersebut.

“Kami tidak tahu pada saat apa yang salah,” kata Fernandes, pengusaha asal Malaysia yang mendirikan maskapai berbiaya rendah tersebut di tahun 2001.

“Mari kita tidak berspekulasi saat ini.”

Maskapai Malaysia, AirAsia memiliki catatan keamanan yang baik dan tidak pernah kehilangan pesawat.

Namun demikian, Malaysia sendiri sudah mengalami tahun bencana, dengan 239 orang dinyatakan hilang dari Flight 370 dan 298 orang tewas di dalam pesawat Flight 17 ketika ditembak jatuh di atas wilayah yang dikuasai pemberontak di Ukraina.

AirAsia mengatakan Flight 8501 pada rencana penerbangan yang sudah ditentukan tetapi telah meminta perubahan karena factor cuaca.

Sunardi, seorang ahli cuaca di Badan Meteorologi dan Geofisika Indonesia (BMKG), mengatakan awan badai terdeteksi hingga 13.400 meter (44.000 kaki) di daerah pada saat itu.

“Itu bisa terjadi turbulensi, petir dan vertikal serta angin kencang horisontal dalam awan tersebut,” kata Sunardi.

HuffingtonPost melaporkan, pilot maskapai penerbangan rutin dan ahli terbang di area badai, kata John Cox, seorang mantan penyelidik kecelakaan pesawat dari Amerika Serikat. Menggunakan radar on-board, awak pesawat biasanya dapat melihat badai membentuk dari kejauhan 100 mil .

“Dalam kasus tersebut, pilot memiliki banyak waktu untuk menemukan jalan di sekitar badai yang buruk atau mencari celah untuk terbang melalui jalan alternatif,” katanya lagi.

“Ini tidak seperti Anda harus membuat keputusan seketika,” kata Cox. Badai terpantau ratusan mil panjangnya, tetapi “karena jet bergerak di 8 mil per menit, bila Anda pergi 100 mil keluar dari cara Anda,  itu tidak masalah.”

“Pihak berwenang belum mengatakan, apakah ada kelemahan pada target radar sekunder, yang dibuat oleh transponder pesawat, atau target radar primer, yang diciptakan oleh energi yang dipantulkan dari tubuh pesawat hilang,” jelas Cox.

Pesawat yang terdiri dari kapten Indonesia, Iryanto, dan co-pilot asal Perancis serta lima anggota awak kabin ini mengangkut 155 penumpang, termasuk 16 anak-anak dan satu bayi. Maskapai ini mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Di antara penumpang tiga warga Korea Selatan, seorang Malaysia, seorang warga Inggris dan remaja putri asal Singapura berusia 2 tahun. Sisanya adalah orang Indonesia.

Kapten AirAsia memiliki lebih dari 20.000 jam terbang, yang 6.100 jam bersama dengan AirAsia di Airbus 320. Sedangkan, petugas pertama memiliki 2,275 jam terbang.

“Papa, pulang, aku masih merindukanmu,” ujar Angela Anggi Ranastianis, putri kapten berusia 22 tahun tersebut. “Tolong bawa kembali papa saya. Papa, silakan datang ke rumah,” sedihnya.

Di rumah Iryanto di kota Sidoarjo Jawa Timur, tetangga, kerabat dan teman-teman berkumpul hari ini untuk berdoa dan membaca Quran untuk mendukung keluarga yang sedang berduka. Teriakan putus asa mereka begitu keras hingga terdengar di luar di mana tiga televisi LCD dipasang dibentuk untuk memantau perkembangan pencarian.

“Dia adalah pria yang baik. Itu sebabnya orang di sini menunjuk dia sebagai kepala lingkungan (Pak RT) kami selama dua tahun terakhir,” kata Bagianto Djoyonegoro, kerabat sekaligus tetangga korban.

Perlu diingat, bahwa dia merupakan pilot berpengalaman percontohan Angkatan Udara yang pernah terbang bersama jet tempur F-16 sebelum menjadi pilot maskapai penerbangan komersial.

Pesawat tersebut memiliki perawatan rutin terjadwal terakhir pada 16 November lalu, menurut AirAsia.

Maskapai penerbangan tersebut telah mendominasi perjalanan berbiaya murah di Asia Tenggara selama bertahun-tahun, dan melakoni rute pendek hanya beberapa jam, yang menghubungkan kota-kota besar di wilayah Asia. Baru-baru ini,

Maskapai itu telah mencoba untuk memperluas bisnisnya dengan melahirkan Maskapai AirAsia X.

Maskapai A320, meliputi A319 dan A321, memiliki catatan keamanan yang baik, dengan hanya 0,14 kecelakaan fatal per juta lepas landas, berdasarkan sebuah studi keselamatan yang diterbitkan oleh Boeing pada bulan Agustus lalu.

Penerbangan 8501 hilang di ketinggian jelajah yang, yang biasanya merupakan rute paling aman dari perjalanan. Hanya 10 persen dari kecelakaan fatal 2004-2013 terjadi saat pesawat berada dalam tahap penerbangan, kata laporan keamanan Amerika.

Artikel ini ditulis oleh: