Jakarta, aktual.com – Wakil Ketua MPR RI Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA menerima delegasi Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di Ruang Kerja Wakil Ketua MPR, Gedung Nusantara III Lantai 9, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Dalam audiensi tersebut, Hidayat Nur Wahid atau yang akrab disapa HNW menyambut baik serta mengapresiasi rencana DPM UMJ yang akan menggelar Sekolah Legislatif Nasional dan Forum Musyawarah Nasional DPM Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) pada 11–15 Februari 2026.
Ketua DPM UMJ, Dzul Fikran, dalam kesempatan itu secara langsung mengundang HNW untuk menjadi narasumber pada Sekolah Legislatif Nasional yang akan diikuti mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah di Indonesia yang memiliki Dewan Perwakilan Mahasiswa.
“Kami kembali akan menyelenggarakan Sekolah Legislatif Nasional yang bertujuan memberi motivasi dan wawasan luas kepada mahasiswa Muhammadiyah dan Aisyiyah tentang pentingnya peran legislator muda dalam mengawal eksekutif, dimulai dari kampus hingga berkontribusi bagi Indonesia. Kegiatan ini juga membekali peserta dengan pemahaman mekanisme dan proses pembentukan undang-undang,” ujar Dzul Fikran.
Menanggapi hal tersebut, HNW menilai fokus DPM UMJ terhadap isu legislasi merupakan langkah strategis dalam menyiapkan generasi muda yang memahami demokrasi secara substansial. Ia menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi memiliki pilar penting pada fungsi legislatif, legislasi, dan legislator yang harus dipahami dan dijalankan dengan baik.
“Untuk menjadi legislator yang benar dan berkualitas tidak bisa ujug-ujug. Diperlukan persiapan dan pembiasaan sejak dini. Keaktifan di organisasi mahasiswa dan pemuda menjadi salah satu pintu penting dalam menyiapkan kader legislator yang berkualitas,” kata HNW.
HNW menjelaskan bahwa fungsi legislatif tidak hanya terbatas pada pengawasan, pembentukan undang-undang, dan penganggaran. Menurutnya, terdapat fungsi penting lain yang kerap terlupakan, yakni advokasi dan memperjuangkan aspirasi rakyat sebagai konstituen.
“Seorang anggota legislatif adalah wakil rakyat. Maka sudah sewajarnya seluruh fungsi pengawasan, legislasi, dan budgeting selalu berbasis pada kepentingan rakyat. Ini juga harus dipraktikkan oleh anggota DPM di kampus, agar selaras dengan aspirasi mahasiswa sebagai konstituennya,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, HNW juga mencontohkan peran penting legislator dalam menghadirkan perubahan melalui legislasi. Ia mengingatkan bagaimana MPR pada era reformasi mengamandemen UUD 1945 untuk membatasi masa jabatan Presiden, sebagai respons atas aspirasi mahasiswa dan masyarakat.
“Perubahan Pasal 7 UUD 1945 yang membatasi masa jabatan Presiden menjadi dua periode adalah bukti bahwa legislator mendengarkan suara rakyat dan mampu menghadirkan kemaslahatan sesuai aspirasi masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, HNW menyoroti perubahan konstitusi terkait tujuan pendidikan nasional. Ia menyebutkan, melalui amandemen UUD 1945, MPR memasukkan nilai keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia dalam Pasal 31 ayat 3 dan ayat 5 sebagai arah pembangunan pendidikan nasional.
“Ini menunjukkan bahwa legislator memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa, termasuk dalam bidang pendidikan,” tambahnya.
HNW juga mengingatkan bahwa para perumus UUD 1945 merupakan aktivis mahasiswa pada masanya. Tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, dan Kahar Muzakir telah aktif berorganisasi sejak muda sebelum akhirnya berperan besar dalam sejarah bangsa.
“Sejarah adalah pengulangan. Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh peran mahasiswa hari ini. Mereka yang aktif berorganisasi, memahami fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran, serta konsisten memperjuangkan aspirasi rakyat, akan menjadi penentu masa depan bangsa,” ujarnya.
Ia pun mengajak mahasiswa Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk terus menghadirkan generasi muda yang berkemajuan, berkeadaban, dan berkontribusi dalam membangun demokrasi yang berkualitas.
“Dengan semangat fastabiqul khairat, mahasiswa Muhammadiyah dan Aisyiyah harus siap berkompetisi menghadirkan keunggulan dan kebaikan, serta menjadi bagian penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045,” pungkas HNW.
Audiensi tersebut disambut antusias oleh delegasi DPM UMJ yang hadir, sekaligus memperkuat komitmen mahasiswa untuk berperan aktif dalam penguatan demokrasi dan legislasi sejak di lingkungan kampus.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Oktaviano
















