Jakarta, aktual.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 akan berada sedikit di bawah target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.
Sebagaimana diketahui, APBN 2025 mematok target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen. Namun, Purbaya memproyeksikan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun ini berada di kisaran 5,1 persen.
“Mendekati 5,2 persen, 5,1 persenlah. Ada kemungkinan (di bawah target APBN),” ujar Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Selasa.
Meski demikian, Purbaya tetap optimistis terhadap kinerja ekonomi pada kuartal IV-2025. Ia menargetkan pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut mencapai 5,45 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian pada kuartal-kuartal sebelumnya.
“Kalau saya segitu-gitu saja, 5,45 persen kan, kuartal IV doang,” katanya.
Sementara untuk tahun 2026, Purbaya menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi akan bergerak lebih pesat. Menurutnya, strategi utama yang akan ditempuh pemerintah adalah menggerakkan dua mesin pertumbuhan ekonomi secara bersamaan, yakni sektor pemerintah dan sektor swasta.
Purbaya mencontohkan kinerja perekonomian pada masa pemerintahan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono yang banyak didorong oleh peran aktif sektor swasta, sehingga ekonomi tetap tumbuh positif meski peran pemerintah relatif pasif.
Sebaliknya, pada masa pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), ia menilai partisipasi sektor swasta cenderung lebih landai, salah satunya dipengaruhi kebijakan moneter yang dinilai kurang mendukung aktivitas swasta.
“Oleh sebab itu, untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, kedua mesin tersebut harus digerakkan secara bersamaan,” ujarnya.
Selain itu, Purbaya menegaskan pemerintah juga terus memperbaiki iklim usaha, salah satunya dengan membereskan berbagai hambatan investasi atau debottlenecking melalui Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP). Langkah tersebut dilakukan untuk memberikan kepastian dan rasa aman bagi investor dalam menanamkan modal di Indonesia.
“Setelah itu, saya pikir mencapai pertumbuhan di atas 6 persen tidak akan terlalu sulit. Jadi kami memaksimalkan semua mesin pertumbuhan ekonomi agar ekonomi bisa tumbuh pada kapasitas penuhnya,” tutur Purbaya.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Oktaviano

















